- Siloam Hospitals Mampang meraih status New FLS dari IOF pada Jumat, 30 Oktober 2026, untuk mencegah patah tulang berulang.
- Dr. dr. Wahyuni Dian Purwati menyatakan penanganan patah tulang kini mencakup identifikasi risiko osteoporosis terstruktur setelah pasien pulang.
- Dr. Dohar A.L. Tobing menjelaskan osteoporosis sering tidak bergejala hingga terjadi patah tulang atau penurunan tinggi badan.
Suara.com - Patah tulang akibat kerapuhan bukan sekadar masalah yang selesai setelah tulang ditangani dan pasien diperbolehkan pulang. Bagi seseorang yang pernah mengalami patah tulang akibat osteoporosis, kejadian tersebut justru dapat menjadi tanda adanya risiko patah tulang berikutnya.
International Osteoporosis Foundation (IOF) menyebutkan, satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia 50 tahun ke atas akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis sepanjang hidupnya. Risiko tersebut menjadi perhatian karena patah tulang dapat berdampak pada mobilitas, kemandirian, hingga kualitas hidup seseorang.
Risiko patah tulang berikutnya juga cenderung meningkat setelah seseorang mengalami patah tulang akibat kerapuhan. Karena itu, penanganan tidak cukup hanya berfokus pada cedera yang sudah terjadi, tetapi juga perlu dilanjutkan dengan upaya mencari penyebab dan mencegah kejadian serupa terulang.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah Fracture Liaison Service (FLS). Layanan ini merupakan sistem terkoordinasi untuk mengidentifikasi pasien yang mengalami patah tulang akibat kerapuhan, mengevaluasi risiko osteoporosis, serta memastikan pasien mendapatkan penanganan dan tindak lanjut yang sesuai.
Siloam Hospitals Mampang kini tercatat dalam Map of Best Practice Capture the Fracture yang dikelola IOF dengan status New FLS (Blue Star). Status tersebut menjadi tahap awal pengembangan layanan FLS sekaligus acuan bagi rumah sakit untuk meningkatkan kualitas praktik secara bertahap.
Hospital Director Siloam Hospitals Mampang, Dr. dr. Wahyuni Dian Purwati, Sp.EM, menegaskan bahwa perawatan pasien patah tulang seharusnya tidak berhenti ketika tindakan medis selesai.
“Penanganan pasien patah tulang tidak seharusnya berhenti ketika tindakan medis selesai dan pasien diperbolehkan pulang. Melalui pengembangan Fracture Liaison Service, kami ingin membangun proses tindak lanjut yang lebih terstruktur, mulai dari identifikasi pasien berisiko, evaluasi osteoporosis, hingga edukasi dan penanganan,” ujarnya dalam kegiatan “Timeless Music, Timeless Movement” pada Jumat, 30 Oktober 2026, di Fountain Atrium, Grand Indonesia, dalam rangka peringatan Hari Osteoporosis Sedunia.
Menurut Wahyuni, pendekatan tersebut diharapkan membuat pasien tidak hanya pulih dari patah tulang pertama, tetapi juga memperoleh perhatian yang diperlukan untuk menekan risiko patah tulang berikutnya.
Osteoporosis Sering Tidak Disadari
Upaya mencegah patah tulang berulang tidak dapat dilepaskan dari deteksi osteoporosis. Pasalnya, osteoporosis sering berkembang tanpa gejala yang jelas dan baru diketahui ketika seseorang mengalami patah tulang.
Kondisi ini bahkan dapat luput dikenali pada tulang belakang. Patah tulang akibat kerapuhan pada bagian tersebut tidak selalu menimbulkan nyeri berat. Penurunan tinggi badan atau perubahan postur yang dianggap sebagai bagian dari proses penuaan bisa menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
dr. Dohar A.L. Tobing, Sp.OT, Subsp.OTB(K), Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, Subspesialis Orthopaedi Tulang Belakang Konsultan Siloam Hospitals Mampang, mengatakan masyarakat perlu lebih memahami tanda dan faktor risiko osteoporosis.
“Osteoporosis sering kali tidak menimbulkan gejala sampai seseorang mengalami patah tulang. Pada tulang belakang, tanda-tandanya bahkan bisa berupa penurunan tinggi badan atau perubahan postur yang dianggap sebagai bagian normal dari penuaan. Padahal, kondisi ini dapat dikenali dan ditangani lebih awal,” kata Dohar.
Karena itu, menurutnya, masyarakat perlu mengenali faktor risiko dan berkonsultasi mengenai pemeriksaan yang sesuai sebelum terjadi patah tulang.
Sejalan dengan kampanye IOF 2026, “Build, Protect, Strengthen Your Bones for Life”, perhatian terhadap kesehatan tulang juga perlu dilakukan sepanjang kehidupan, bukan hanya ketika masalah sudah muncul.
Siloam Hospitals Mampang kemudian memperkuat pendekatan tersebut melalui tujuh program skrining kesehatan tulang, sendi, dan fungsi gerak. Programnya mencakup Skrining Osteoporosis melalui pemeriksaan kepadatan tulang atau Bone Mineral Density (BMD) dan konsultasi dokter orthopaedi.
Ada pula skrining osteoartritis lutut, nyeri punggung bawah, nyeri bahu, serta kaki dan pergelangan kaki dengan pemeriksaan yang disesuaikan kondisi klinis. Selain itu, tersedia Active Life MCU bagi individu aktif dan pegiat olahraga serta skrining berbasis komunitas untuk kondisi seperti skoliosis dan bunion.
Executive Director Siloam Hospitals Mampang, Ratih Hadiwinoto, mengatakan layanan orthopaedi seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tempat untuk mendapatkan pertolongan ketika cedera atau membutuhkan operasi.
“Kami ingin masyarakat melihat layanan orthopaedi bukan hanya sebagai tempat untuk datang ketika mengalami cedera atau membutuhkan operasi. Ada banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan lebih awal untuk menjaga kesehatan tulang dan sendi,” ujar Ratih.
Melalui penguatan FLS, skrining, edukasi, dan pemeriksaan kesehatan tulang, upaya menjaga tulang diharapkan tidak berhenti pada pengobatan setelah patah tulang terjadi. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan kemampuan bergerak, kemandirian, dan kualitas hidup sekaligus mencegah patah tulang berikutnya.