Indotnesia - Penyelidikan kasus pembunuhan Brigadir J alias Nofryansah Yosua Hutabarat menemui babak baru. Tersangka yakni mantan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo dan istrinya, Putri Chandrawati, akan diperiksa dengan bantuan alat uji kebohongan atau lie detector.
"Itu namanya uji polygraph, untuk menentukan tingkat kejujuran subjek dalam memberikan keterangan," ujar Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi, Selasa (6/9/2022), seperti dikutip dari Suara.com.
Uji poligraf tersebut juga dilakukan kepada tersangka lainnya, yaitu Bharada E alias Richard Eliezer, Brigadir RR alias Ricky Rizal, dan Kuat Maruf.
Kita mengenal alat pendeteksi kebohongan yang muncul di berbagai drama serial, film, komedi, bahkan iklan. Tapi sebenarnya bagaimana cara kerja lie detector itu?
Melansir Investigations, alat pendeteksi kebohongan atau polygraph tests berasal dari bahasa Yunani. “Graph” berarti menulis, dan “poly” berarti banyak.
Dengan begitu, poligraf adalah ukuran beberapa fungsi fisiologis yang secara bersama-sama menghasilkan satu catatan tertulis. Seiring perkembangan teknologi, hasil dari uji poligraf sudah terhubung dengan komputer.
Mesin poligraf ditemukan pada 1921 di Berkeley, California, Amerika Serikat. Petugas polisi John Larson menciptakan mesin pertama itu, berdasarkan tes tekanan darah sistolik yang dipelopori oleh psikolog William Moulton Marston.
Sebelum itu, pada 1904 di Italia, sudah ada alat untuk mengukur laju napas seseorang. Teori di balik masing-masing alat tersebut adalah pernapasan dan/atau tekanan darah seseorang meningkat ketika berbohong.
Cara Kerja Alat Pendeteksi Kebohongan
Baca Juga: Baim Wong Tuai Kritik, Netizen: Fakir Miskin dan Anak Terlantar Dipelihara Baim Wong
Melansir BBC, kredibilitas poligraf menghadapi tantangan sejak ditemukan pada 1921. Muncul perdebatan tentang keakuratan alat tersebut.
Profesor Psikologi di University of Portsmouth, Prof Aldert Vrij, mengatakan alat pendeteksi kebohongan bisa menjadi pengalaman yang memunculkan stres, sehingga orang yang tidak bersalah bisa merasa bersalah.
"Orang yang ditanya dengan poligraf cenderung merasa stres. Jadi, meski poligraf cukup bagus dalam mengidentifikasi kebohongan, poligraf tidak terlalu bagus dalam mengidentifikasi kebenaran," katanya.
Lalu, bagaimana cara kerja lie detector?
Ketika berbohong, seseorang akan mengalami tekanan fisik pada tubuh, seperti stres. Selain itu, sistem saraf simpatik menghasilkan respons spesifik.
Ada beberapa fungsi fisiologis yang mengalami peningkatan ketika seseorang berbohong seperti detak jantung, pernapasan, keringat, dan tekanan darah.
Lie detector akan mendeteksi peningkatan tersebut melalui sensor yang dihubungkan ke tubuh manusia untuk merekam perubahan itu. Data fisiologis itu kemudian tercatat pada grafis kertas atau komputer.
Peningkatan yang signifikan pada satu atau lebih fungsi fisiologis maka menunjukkan seseorang itu berbohong. Namun, butuh orang yang ahli untuk menafsirkan hasilnya dengan benar.
Mengutip Investigations, kalau di film dan televisi, subjek nggak tahu sebelumnya terkait pertanyaan yang akan diajukan. Tapi ini kontraproduktif karena bisa menghasilkan false positive.
Jadi, subjek biasanya mengetahui pertanyaan apa yang akan diberikan karena penyelidik sudah menanyakan pertanyaan tersebut sebelumnya. Ada tiga jenis pertanyaan yang diajukan, yakni:
- Pertanyaan relevan
- Pertanyaan diagnostik
- Pertanyaan tidak relevan
Pertanyaan relevan adalah pertanyaan yang berhubungan langsung dengan masalah yang ingin diketahui oleh pemeriksa. Pertanyaan tidak relevan adalah pertanyaan yang tidak berhubungan langsung dengan masalah yang dihadapi.
Pertanyaan diagnostik adalah pertanyaan untuk menentukan apakah subjek akan menghasilkan respons fisiologis saat berbohong.
Seseorang yang bereaksi lebih kuat terhadap pertanyaan diagnostik daripada pertanyaan yang relevan dianggap lulus tes dan mengatakan yang sebenarnya.