Dalam kampanye presiden pada 2016, suami Melania Trump itu disebut misoginis dan menjatuhkan kesetaraan bagi orang non-kulit putih atau orang kulit berwarna, imigran, dan komunitas LGBTQ+.
Ratusan ribu perempuan turun ke jalan-jalan ibu kota, diikuti dengan jutaan orang lainnya di AS dan beberapa negara di dunia.
4. Demo Menentang Invasi ke Irak
Pada 15 Februari 2003, jutaan orang melakukan unjuk rasa di lebih dari 600 kota. Mereka menentang rencana Presiden AS George W Bush untuk menyerang Irak.
Di Roma, Italia, sebanyak 3 juta orang ambil bagian dalam aksi demo itu. Sekitar 750.000 berkumpul di London, Inggris, untuk menentang invasi AS ke Irak.
Ada lebih dari 1,5 juta orang unjuk rasa di Madrid, dan 100.000 orang di New York melakukan demp di dekat markas besar PBB. Meski aksi protes berlangsung damai, ternyata AS tetap menyerang Irak mulai 20 Maret 2003.
5. Unjuk Rasa Tiananmen
Pada 1989, seorang pria berdiri sendirian di depan tank di Lapangan Tiananmen, China. Aksinya itu merupakan tindakan terakhir dari aksi demo yang membawa sekitar satu juta orang ke jalan untuk menuntut lebih banyak kebebasan.
Mahasiswa memimpin unjuk rasa ada pertengahan April 1989 itu, setelah kematian Hu Yaobang, seorang mantan pejabat tinggi yang disingkirkan setelah menyerukan reformasi.
Baca Juga: Muncul Kasus Penganiayaan Sebabkan Santri Meninggal, Ini Sejarah Pondok Pesantren Gontor
Titik utama unjuk rasa berada di Lapangan Tiananmen hingga pada akhir Mei 1989, pemerintah memberlakukan darurat militer. Aksi protes terus menyebar ke sekitar 400 kota.