Muncul Kasus Penganiayaan Sebabkan Santri Meninggal, Ini Sejarah Pondok Pesantren Gontor

Indotnesia

Selasa, 06 September 2022 | 14:37 WIB
Muncul Kasus Penganiayaan Sebabkan Santri Meninggal, Ini Sejarah Pondok Pesantren Gontor
Begini sejarah Pondok Modern Darussalam Gontor yang mencuat karena akasus penganiayaan santri. (Facebook/ Pondok Modern Darussalam Gontor)

Indotnesia - Nama Pondok Pesantren Gontor mencuat lantaran kasus penganiayaan seorang santri hingga sebabkan meninggal dunia. 

Awalnya ibu santri bernama Soimah mengadu ke pengacara kondang Hotman Paris lantaran merasa ada yang aneh dari kematian anaknya. Selain itu, pada jenazahnya terlihat tanda-tanda adanya penganiayaan dan kain kafan pun bersimbah darah.

Meskipun merasakan kejanggalan, pihak keluarga tidak berani melaporkan hal itu pada kepolisian karena menyangkut nama pesantren terkenal di Indonesia. Namun, setelah curhatannya kepada pengacara kondang itu, Hotman meminta untuk kepolisian Jawa Timur mengusut tuntas kasus tersebut.

Saat ini, pihak pondok telah mengakui kebenaran kematian korban dan telah memberikan sanksi bagi pelaku dikeluarkan dari sekolah. Ponpes Gontor menjadi salah satu lembaga pendidikan terkenal di Indonesia.

Lalu, bagaimana sejarah Ponpes Gontor?

Pondok Modern Darussalam Gontor adalah salah satu pondok pesantren ternama yang terletak di Ponorogo, Jawa Timur. Gontor menerapkan konsep pendidikan asrama (boarding school) dengan memadukan model pesantren klasik/salaf dengan modern.

Ponpes ini dikenal dengan penerapan kedisiplinan yang tinggi dan penguasaan bahasa asing bagi tiap santri, serta serta kaderisasi dan ikatan alumni yang kuat.

Melansir dari laman resminya, kemunculan Pondok Modern Darussalam Gontor bermula sekitar abad ke-18. Dulunya bernama Pondok Tegalsari yang didirikan oleh  Kyai Ageng Hasan Bashari.

Kemudian salah satu santri beliau yang pintar di berbagai bidang, bernama Sulaiman Jamaluddin dinikahkan dengan putrinya. Setelah itu dia dipercaya mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor, yang saat itu masih berupa perhutanan dan belum banyak dijamah orang. 

baca juga

Pondok Gontor awalnya hanya ada 40 santri, tetapi pesantren ini terus berkembang pesat semenjak dipimpin oleh putranya yaitu Kyai Anom Besari. Setelah Kyai Anom wafat, pondok dilanjutkan oleh generasi ketiga yaitu Kyai Santoso Anom Besari.

Setelah tiba masa kepemimpinan generasi keempat, ketiga anak Kyai Santoso, KH. Ahmad Sahal (1901-1977), KH. Zainuddin Fanani (1908-1967), dan KH. Imam Zarkasyi (1910-1985) dari 7 bersaudara pergi menuntut ilmu di berbagai lembaga pendidikan dan pesantren. Kemudian kembali ke ke Gontor untuk meningkatkan mutu pendidikan di sana.

Mereka mendirikan Pondok Modern Darussalam Gontor pada 20 September 1926 bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi. Saat itu jenjang pendidikan dasar mulai terbentuk diberi nama tarbiyatul Athfal dan 10 tahun kemudian didirikan Kulliyatu-l-Mu'allimin al-Islamiyah yang setara dengan jenjang pendidikan menengah 6 tahun.

Hingga sekarang Pondok Pesantren Gontor terus berkembang dan menaungi ribuan santri serta telah meluluskan ribuan alumni.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Gontor Trending Twitter Dugaan Penganiayaan Menewaskan Seorang Santri

Gontor Trending Twitter Dugaan Penganiayaan Menewaskan Seorang Santri

Jatim | Selasa, 06 September 2022 | 12:00 WIB

Terkini

FIA Rallycross World Cup 2026 Mendarat di Jakarta, Pebalap Indonesia Dapat Kesempatan Unjuk Gigi

FIA Rallycross World Cup 2026 Mendarat di Jakarta, Pebalap Indonesia Dapat Kesempatan Unjuk Gigi

Sport | Selasa, 15 September 2026 | 21:51 WIB

Guru Diminta Cicipi MBG, Benarkah Bisa Mencegah Keracunan?

Guru Diminta Cicipi MBG, Benarkah Bisa Mencegah Keracunan?

News | Selasa, 15 September 2026 | 21:45 WIB

Darurat ISPA di Kalimantan: 460 Ribu Kasus Terjadi, Pemerintah Jangan Cuma Bagi-bagi Masker!

Darurat ISPA di Kalimantan: 460 Ribu Kasus Terjadi, Pemerintah Jangan Cuma Bagi-bagi Masker!

News | Selasa, 15 September 2026 | 21:43 WIB

Promo UFood BRI Kasih Diskon Makanan hingga 65%, Siapa Cepat Dia Dapat!

Promo UFood BRI Kasih Diskon Makanan hingga 65%, Siapa Cepat Dia Dapat!

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 21:25 WIB

Pertamina Perkuat Ketahanan Energi Melalui Integrasi Portofolio dan Infrastruktur LNG

Pertamina Perkuat Ketahanan Energi Melalui Integrasi Portofolio dan Infrastruktur LNG

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 21:17 WIB

Empat Orang Dekatnya Jadi Tersangka, Nusron Wahid Belum Diperiksa KPK

Empat Orang Dekatnya Jadi Tersangka, Nusron Wahid Belum Diperiksa KPK

News | Selasa, 15 September 2026 | 21:16 WIB

Polisi Beri Pendampingan Psikologis bagi Keluarga Korban KM Virgo

Polisi Beri Pendampingan Psikologis bagi Keluarga Korban KM Virgo

Video | Selasa, 15 September 2026 | 21:05 WIB

Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur

Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 21:05 WIB

Kronologi Karyawan SPPG Bengkulu Tewas, Sempat Tolong Satpam Sebelum Ditemukan di Sungai

Kronologi Karyawan SPPG Bengkulu Tewas, Sempat Tolong Satpam Sebelum Ditemukan di Sungai

Sumsel | Selasa, 15 September 2026 | 21:01 WIB

Saat Partai Politik Sibuk Bangun Citra, Padahal Rakyat Masih Terluka oleh Bencana

Saat Partai Politik Sibuk Bangun Citra, Padahal Rakyat Masih Terluka oleh Bencana

Jogja | Selasa, 15 September 2026 | 21:00 WIB

×