Indotnesia - Peringatan Hari Ulang Tahun ke-71 Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, diwarnai dengan sajian geblek dengan panjang 710 meter di Alun-alun Wates pada Sabtu (22/10/2022).
Lalu, apa sih geblek itu? Sekilas mirip cireng, tapi geblek adalah kudapan yang terbuat dari pati singkong. Awalnya, makanan ini merupakan bekal para petani saat bekerja di sawah dan diperkenalkan oleh masyarakat di Pengasih.
Dengan kondisi geografis berupa perbukitan dan dataran tinggi, petani biasanya mengganti masa tanam palawija dengan singkong. Jadi, masyarakat cenderung mengolah singkong untuk kudapan, selain hanya direbus atau digoreng.
Melansir dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hasil pertanian kala itu banyak didominasi oleh singkong. Sementara, bahan utama geblek yang terdiri dari karbohidrat tersebut mampu mengisi tenaga para petani yang telah bekerja keras seharian.
Singkong menghasilkan bentuk yang kenyal sehingga rasa kenyang di perut bisa lebih awet. Dahulu, pembagian kerja pembuatan geblek dibedakan menurut jenis kelamin pembuatnya.
Bagian mencampur air pati dengan air panas dilakukan oleh pria, sementara perempuan yang membentuknya. Adonan pati yang lengket dan panas membutuhkan tenaga yang lebih besar sehingga para prialah yang mengaduknya.
Kalau sekarang, adonan geblek bisa dicampur dengan menggunakan mixer. Dengan kesabaran dan ketelatenan, para perempuan membentuk geblek menjadi mirip angka 8.
Setelah dicetak, geblek akan digoreng dan disajikan dengan bumbu-bumbu sesuai selera. Bahkan, ada pula geblek yang padukan dengan santan kelapa.
Geblek mentah dapat bertahan 3-4 hari di suhu ruangan, tapi dapat bertahan lebih lama kalau disimpan di kulkas. Kenikmatan geblek bisa kamu jumpai di Kulon Progo, terutama di Jalan Nanggulan, Pengasih, dan Wates.
Baca Juga: Bahas Kegelisahan, Ini Lirik Anti-Hero dari Taylor Swift dan Artinya dalam Bahasa Indonesia
Ternyata ada makna mendalam dari kudapan ini. Mengutip situs resmi Desa Karangsari, Kulon Progo, warna putih pada geblek mengingatkan kita sebagai manusia untuk berbuat baik dalam menjalani kehidupan.
Sementara tekstur yang kenyal bermakna agar kita dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Rasa gurih melambangkan manusia yang tidak membeda-bedakan dalam bergaul.
Bentuk lingkaran seperti angka 8 yang sambung menyambung berarti kerja sama dan gotong royong. Kini, geblek telah menjadi ikon Kulon Progo. Bentuknya bahkan bisa dijumpai dalam kain batik dan ornamen lainnya.
Penyajian geblek biasanya disandingkan dengan tempe benguk. Tempe besengek itu berwarna hitam dengan kanil dari santan kelapa yang berwarna abu-abu. Dengan rasa gurih dan manis, tempe ini cocok dimakan dengan geblek.
Tempe benguk juga punya makna filosofi kehidupan, yakni warna hitam yang menunjukkan kekuatan. Meski demikian, ada kesan misteri dan menakutkan karena kalau salah dalam proses memasaknya, tempe benguk justru bisa beracun karena mengandung asam sianida.