Indotnesia - Cuaca panas di berbagai wilayah di Asia sempat membuat sejumlah penduduk mengalami heat stroke dan dehidrasi. Sementara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim kemarau di Indonesia pada tahun ini akan terjadi pada bulan April hingga Juni 2023.
Untuk menghadapi musim panas, sebagian orang memilih untuk menggunakan pakaian berbahan jeans, seperti celana jeans atau jaket jeans. Namun menurut ahli, pakaian dari bahan jeans justru nggak cocok untuk musim panas?
Melansir Times of India, Minggu (30/4/2023), denim atau jeans idealnya untuk musim dingin atau wilayah yang memiliki iklim dingin. Menurut Dr Kabir Sardana dari Rumah Sakit RML, denim justru menjebak panas sehingga menyebabkan penyakit kulit.
“Komplikasi terkait penyakit kulit seperti iritasi, ruam alergi, dermatitis kontak, dan infeksi jamur, seperti ringworm,” ujarnya.
Dia menjelaskan pakaian denim mencegah aerasi sehingga keringat nggak bisa mengering. Panas dan keringat itu menjadi tempat yang ideal untuk pertumbuhan jamur.
Sementara, spora jamur pada bahan jeans nggak bisa mati dengan mudah hanya dengan dicuci. Sedangkan orang-orang tidak mencuci jeans mereka secara teratur sehingga menambah masalah.
“Sebanyak 90% kasus ringworm terjadi biasanya pada pakaian bagian paha dan selangkangan,” ucap Dr Kabir.
Lalu, sebenarnya pakaian berbahan apa yang cocok digunakan saat musim panas?
Mengutip India Times, pakaian dari bahan katun merupakan pilihan terbaik untuk digunakan saat musim panas. Bahan katun menyerap keringat dari tubuh dan membiarkannya menguap ke udara.
Baca Juga: Nggak Perlu Karbit, Begini 3 Cara Mematangkan Pisang dengan Cepat
Bahan katun bekerja seperti halnya handuk, menghilangkan kelembaban dari kulit sehingga mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur. Sebisa mungkin hindari kain sintetis karena tidak menyerap keringat dan justru menjebak panas.
Selain itu, jangan gunakan pakaian ketat karena tidak memiliki sirkulasi udara sehingga keringat tidak menguap.