Tradisi Mengagetkan Bayi Secara Ekstrem Terjadi Lagi, Kenapa Sih Bayi Sering Kagetan?

Indotnesia Suara.Com
Sabtu, 10 Juni 2023 | 19:26 WIB
Tradisi Mengagetkan Bayi Secara Ekstrem Terjadi Lagi, Kenapa Sih Bayi Sering Kagetan?
Tradisi mengagetkan bayi masih kerap dijalani. (Freepik)

Indotnesia - Belum lama ini ramai video yang memperlihatkan tradisi mengagetkan bayi dengan cara menggebrak-gebrakkan sapu dengan keras di sekitar bayi. Hal itu bertujuan agar bayi tidak kagetan

Ternyata tak hanya itu, baru-baru ini juga muncul video tradisi mengagetkan bayi dengan cara melempar-lemparkannya ke atas dengan kasar. Momen tersebut dibagikan oleh akun TikTok @Edimulia99.

Dalam video itu seorang simbah bahkan nampak meletakkan bayi berbaju merah di atas bara api yang mengepul. Setelah itu, sang dukun menggendongnya dan menjunjung bayi ke atas dengan tinggi dan kasar. 

Padahal, aktivitas menggerak-gerakkan bayi atau menimangnya secara kasar sudah dilarang. Hal itu, lantaran berbahaya bagi si kecil. 

Tradisi mengagetkan bayi dengan cara  menganggatkan dengan  tinggi untuk mengagetkannya. [TikTok/@Edimulia99]
Tradisi mengagetkan bayi dengan cara menganggatkan dengan tinggi untuk mengagetkannya. (sumber: TikTok/@Edimulia99)

Namun, tradisi mengagetkan bayi agar tak mudah kaget masih kerap dijumpai. Pasalnya, bayi baru lahir memang kerap tiba-tiba bangun sendiri atau kagetan.

Lalu, kenapa bayi sering kagetan? 

Penyebab bayi sering kaget yaitu akibat respon refleks yang dikenal dengan istilah reafleks moro. 

Resfleks ini muncul saat bayi mendengar suara atau merasakan getaran atau perpindahan. Selain itu biasanya si kecil juga akan meregangkan tangan dan mengangkatnya ke atas. 

Tak hanya itu, saat tertidur meski tak ada suara keras atau getaran bayi juga bisa kaget. Hal itu kemungkinan mimpi yang dialami bayi, terjatuh, diteriakkan, silau, atau lainnya. 

Baca Juga: Mengenal Tradisi Rayahan Gunungan Grebeg Syawal di Yogyakarta

Refleks ini muncul karena bayi belum bisa mengenali suara atau gerakan baru di sekitarnya. Makanya, si kecil jadi mudah merasa kaget. 

Melansir The Asian Parent, refleks moro sangat wajar terjadi pada bayi bahkan tandanya motorik si kecil bekerja dengan baik. 

Kondisi ini terjadi sejak bayi baru lahir dan akan perlahan menghilang pada usia 4-6 bukan saat sudah kuat mengangkat kepalanya.

Jadi, meski kondisi ini dapat mengganggu bayi saat tidur, tetapi berusaha keras untuk menghilangkan kaget dengan cara dikagetkan dengan kasar atau cara ekstrem lainnya tidak dianjurkan dan dapat menyebabkan pendarahan otak. 

Sebagai gantinya cobalah untuk mendekap bayi dengan lembut, minimalisir suara bising, atau menimangnya secara perlahan. Namun, jika si kecil mengalami kagetan yang dirasa berlebihan, maka sebaiknya konsultasikan ke tenaga kesehatan. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI