Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi menilai publik dapat memberikan beragam tafsir atas pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal hati-hati memilih pemimpin.
"Kita diingatkan terus-menerus bahwa memilih pemimpin ... Apalagi berkali-kali presiden mengingatkan agar kita tidak salah memilih pemimpin," kata Burhanuddin dalam pernyataannya dikutip Liberte Suara, Kamis (22/6/2023).
Publik, kata Burhanuddin, tidak dapat dilarang memberikan tafsir terkait berkaitan dengan siapa pernyataan presiden itu ditujukan.
"Karena pernyataan ini sering diulang itu bisa memunculkan tafsir berkaitan siapa yang sebenarnya yang sedang dikirimkan pesannya oleh Prrsiden Jokowi," imbuhnya.
"Kalau kemudian muncul tafsir seolah-olah pernyataan presiden Jokowi itu dikirimkan kepada nama capres di luar nama yang selama ini sering bertemu dengan Presiden Jokowi, tidak bisa kita salahkan tafsir itu," terangnya, menambahkan.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia itu menilai bahwa Jokowi membuat bahasa komunikasi high contact sehingga perlu dimaknai lebih.
"Kalau kita lihat ini bahasa komunikasinya namanya high contact, perlu kita maknai dari pernyataan Presiden. Jokowi di saat Jokowi berkali-kali menampilkan kemesraan dengan dua capres, terutama dengan Pak Prabowo dan Mas Ganjar," jelasnya.
Kepada Jokowi, Burhanuddin menyarankan bahwa sebaiknya presiden harus menjaga jarak dari politik praktis dengan memperlihatkan kenegarawanannya.
"Sebaiknya memang presiden, itu menjaga jarak dari politik praktis, dan memperlihatkan kenegarawanan dengan menampilkan sebagai a friend of everyone, sebagai teman buat semuanya," pungkasnya.