Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto kembali memberikan pernyataan menohok jelang perhelatan dari Pilpres 2024. Diduga hal ini menjadi sindiran telak untuk lawan-lawan dari Ganjar Pranowo.
Politikus ini mengatakan bahwa seorang pemimpin tak akan bisa hadir dengan rekam jejak yang berlumuran darah. Hal ini diucapkannya ketika mengenang peristiwa dari Tragedi Kudatuli.
“Yang namanya pemimpin itu tidak bisa hadir tanpa langkah yang membangun peradaban, pemimpin tidak bisa hadir ketika tangannya berlumuran darah, pemimpin tidak bisa hadir ketika memiliki rekam jejak yang digelapkan oleh nilai-nilai kemanusiaan yang membutakan hati nuraninya itu,” tegasnya seperti yang dilansir dari keterangan tertulis pada Sabtu (29/7).
Ucapan ini dilontarkan olehnya untuk mengingatkan sejumlah pihak bahwa kekuasaan tidak bisa dibangun dengan cara-cara otoriter. Namun hal ini seperti sindiran terhadap sosok dari Prabowo Subianto. Sosok menteri pertahanan yang juga bakal calon presiden itu seperti diketahui memiliki perjalanan hidup yang terkait dengan kasus pelanggaran ham di Indonesia.
Terkait hal ini, Juru Bicara Partai Gerindra Bidang Hak Asasi Manusia (HAM) dan Konstitusi Munafrizal Manan mengatakan bahwa masyarakat Indonesia tak percaya jika Prabowo melakukan pelanggaran HAM.
"Buktinya Prabowo Subianto didukung rakyat sebanyak 62.576.444 suara (46,85 persen) dalam Pilpres 2014 dan sebanyak 68.650.239 (44,50 persen) suara dalam Pilpres 2019," tutur Munafrizal.
Lagi pula menurutnya, tidak ada keputusan hukum yang menyatakan Prabowo Subianto bersalah dalam pelanggaran HAM pada 1997-1998.