Suara.com - Luangkan Minggu pagi ke Taman Krida Loka, Senayan, Jakarta Pusat. Maka, kita akan menyaksikan segerombol pemuda yang berkumpul dan berlatih melompat, memanjat, berguling ataupun berayun. Ketika salah seorang beraksi, maka yang lain menyaksikan sambil mmberi smeangat. Sesekali tepuk tangandan terikan lantang muncul dari kerumunan itu.
Siapakah orang-orang ini? Mereka adalah anggota Komunitas Parkour Jakarta. Nama Parkour diambil dari istilah olahraga yang juga dikenal dengan istilah free-running, yang pertama kali dikenalkan oleh Raymond Belle, David Belle, dan Sebastien Foucen di Prancis pada tahun 1980-an.
Bagi Anda yang sering menonton film kungfu atau film bergenre action, pasti sudah tak asing lagi bukan dengan gerakan seperti melompat, memanjat, berguling hingga berayun itu. Gerakan-gerakan yang dilakoni para talent atau stuntman ini sering mengundang decak kagum.
Dan, menurut Taufan Sudewa, Ketua Komunitas Parkour Jakarta, parkour mulai populer di Indonesia sejak tahun 2007 di Malang. Mulai saat itu, parkour pun berkembang ke banyak kota di Indonesia, termasuk Jakarta.
"Pertama kali parkour di Taman Ria Senayan. Lalu mulai dari situ kita berkumpul, makin banyak peminatnya dan ada inisiatif untuk bikin komunitas namanya Parkour Jakarta," katanya mengawali cerita.
Dewa menambahkan, tak bisa dipastikan, kapan seseorang dapat benar-benar mahir melakukan seluruh gerakan parkour. Pasalnya olahraga ini harus dilakukan bertahap dan berulang-ulang agar tubuh makin fleksibel, dinamis, efisien hingga bisa bergerak secepat mungkin.

Dalam seni berpindah tempat ini, kata Dewa, seseorang tak hanya mendapatkan manfaat kesehatan, yakni tubuh yang bugar. Tetapi juga melatih jiwa kompetisi terhadap dirinya sendiri, selancar apa seseorang itu bisa melewati berbagai rintangan yang dihadapi.
Menekuni parkour, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seseorang, yakni bagaimana dia bisa melewati rintangan atau obstacle dengan mengemas berbagai unsur seperti efisien, dinamis, keselamatan, fleksibelitas, keindahan, dan juga entertaining.
Rintangannya? Bisa beragam. Untuk sesi latihan mislanya, digunakan bar yang terdiri dari besi-besi yang dibentuk sedemikian rupa agar bisa memudahkan para peserta bergerak dan berpindah tempat.
"Banyak kok orang yang datang benar-benar nggak ada basic. Kita berbagi, belajar di sini. Untuk gerakan sendiri udah banyak banget, basicnya misalnya ada quadro pedal, gerakan bertumpu tangan. Sebelumnya paling push up atau pemanasan lain," ujar dia.
Untuk tempat latihan sekaligus berkumpul, Komunitas Parkour Jakarta memilih Taman Krida Loka, Senayan. Ke depannya, Parkour Jakarta berharap dapat memiliki taman Parkour sendiri, mengikuti jejak Kota Surabaya di mana pemerintahnya sudah sangat mendukung kegiatan positif ini.
“Sementara ini Parkour Jakarta cuma memakai fasilitas dari taman, untuk obstacle bar dan obstacle kuda-kuda itu kita bikin sendiri. Jika didukung oleh pemerintah, kita berharap taman ini nanti terbuka untuk semua orang, bukan hanya praktisi parkour saja.” kata dia.
Saat latihan, biasanya anggota datang hanya bermodalkan kaos, celana pendek, dan sepatu yang nyaman. Hingga kini, ada sekitar 50 orang peserta aktif yang terbagi dalam beberapa kelas, yakni kelas first-timer dan kelas basic. Kelas basic juga dibagi lagi sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta.

Sementara mereka yang mengajar, disebut sebagai guide. Mengapa demikian? Karena filosofi dari olahraga ini adalah berbagi. Tidak heran selama ini, kita jarang mendengar parkour menggelar kompetisi atau kejuaraan.
“Parkour itu buat berbagi. Setiap kegiatan kan pasti ada tujuannya, nah parkour sendiri bertujuan untuk sharing, saling bantu,” ujar Dewa.
Tak hanya latihan, komunitas inipun memiliki beragam aktivitas lainnya seperti acara sosial donor darah ataupun jamming bersama dengan Komunitas Parkour lain dari berbagai daerah. Komunitas ini juga kerap diundang ke berbagai acara untuk tampil menghibur hingga menjadi talent di film.
“Parkour gak ada batasan usia, contohnya peserta paling muda umur 9. Pernah ada anggota umur 40, bahkan ibu berumur 30-an yang latihan bareng anaknya,” pungkasnya.
Bagi mereka yang ingin bergabung, Dewa menyarankan untuk langsung datang ke tempat latihan di Taman Krida Loka, Senayan atau tepatnya di belakang kolam renang Senayan, setiap hari Minggu, pukul 8.30 pagi tanpa biaya. Ingin seperti bintang film action, gabung saja dengan parkour Indonesia!