Meski Mahal, Kain Tenun Songket Sambas Laris Manis di Kuching

Ririn Indriani

Minggu, 03 Juli 2016 | 08:31 WIB
Meski Mahal, Kain Tenun Songket Sambas Laris Manis di Kuching
Ilustrasi kain songket.

Suara.com - Kain tenun songket Sambas merupakan produk pameran paling diminati masyarakat Kuching di Festival Produk Indonesia 2016 yang digelar di Vivacity Mall, Kuching, Malaysia, 8 Juni-3 Juli 2016. Acara tersebut digelar KJRI di Kuching bekerja sama Kementerian Parawisata RI.

"Hasil kerajinan tangan masyarakat Sambas berupa kain songketnya di festival ini paling laris atau laku keras. Orang Kuching di sini sangat tertarik meskipun harga terbilang mahal di mana harga per helai kisaran Rm1000-Rm3000," ucap Konsul Fungsi Ekonomi KJRI Kuching, Henny Mullyani di Kuching, Minggu (3/7/2016).

Selain kain tenun Sambas yang mendapatkan sambutan positif oleh pengunjung festival, lanjut dia, kuliner khas Kota Pontianak berupa minuman dari lidah buaya atau aloevera juga tidak kalah larisnya.

"Minuman aloe vera dalam beberapa hari sudah habis terjual. Sehingga peserta festival dari Pontianak pulang lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan," kata Henny.

Ia juga menjelaskan hingga minggu ketiga sejak dibuka pameran, omzet dari transaksi penjualan sudah mencapai Rm800 ribu. Hingga berakhirnya kegiatan dan meskipun rekap detailnya belum disusunnya, namun ia memprediksikan paling tidak transaksinya bisa mencapai kisaran Rm100 ribu.

"Dari transaksi yang ada ini, belum lagi termasuk yang sudah ada pesan dengan sejumlah peserta festival ini. Ada yang mau baik menjadi distributor di Kuching maupun yang memesan secara pribadi," tutur Henny.

Pada dasarnya, kata dia, festival produk Indonesia 2016 bukan hanya semata-mata pada seberapa besar transaksi omzet penjualan namun jauh dari itu di mana lebih kepada membuka pasar baru bagi 12 UMKM yang ikut.

"Dari 12 UMKM berpartisipasi ada 90 produk yang ditawarkan kepada pengunjung. UMKM ikut itu dari empat daerah yakni Kota Pontianak, Singkawang, Kabupaten Sambas dan Kapuas Hulu," terangnya.

Menurut Henny, meskipun secara umum produk yang dipamerkan sudah sangat diminati namun ia tetap memberikan catatan agar ke depan lebih baik, terutama terhadap produk kuliner.

"Soal rasa produk kita sangat enak dan mampu bersaing. Namun masalahnya adalah ada beberapa produk kita masih perlu peningkatan terutama soal kemasan. Kemasan kita bahannya kurang baik dan menarik," paparnya.

Ke depan produk Kalbar, lanjut Henny, bukan lagi di Kuching namun ke negara lain. Sehingga dengan demikian ekonomi dari pelaku UMKM terus tumbuh dan berkembang. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

"Utak-atik" Songket, Pengusaha Ini Raup Puluhan Juta per Bulan

"Utak-atik" Songket, Pengusaha Ini Raup Puluhan Juta per Bulan

Bisnis | Sabtu, 12 Desember 2015 | 06:12 WIB

Kain Tenun NTB Jadi Favorit di AS

Kain Tenun NTB Jadi Favorit di AS

Lifestyle | Kamis, 27 Agustus 2015 | 02:40 WIB

Tenun Indonesia Butuh Branding untuk Tembus Pasar Dunia

Tenun Indonesia Butuh Branding untuk Tembus Pasar Dunia

Bisnis | Jum'at, 05 Juni 2015 | 11:45 WIB

Uniknya Kain Tenun Gedog Khas Tuban

Uniknya Kain Tenun Gedog Khas Tuban

Lifestyle | Jum'at, 28 November 2014 | 07:36 WIB

Terkini

Lampu Merah Sektor Pertanahan, 8 Celah Korupsi Radar KPK

Lampu Merah Sektor Pertanahan, 8 Celah Korupsi Radar KPK

Bogor | Minggu, 20 September 2026 | 22:52 WIB

Tari Jaipong Asal Surade Sukabumi Pukau Panggung Asian Games 2026 di Jepang

Tari Jaipong Asal Surade Sukabumi Pukau Panggung Asian Games 2026 di Jepang

Jabar | Minggu, 20 September 2026 | 22:43 WIB

23 Perusahaan Buang Limbah ke Sungai Cileungsi

23 Perusahaan Buang Limbah ke Sungai Cileungsi

Bogor | Minggu, 20 September 2026 | 22:35 WIB

Dua Legenda Liverpool Sambangi Jakarta, Antusiasme Fans Indonesia Bikin Sami Hyypia Terkejut

Dua Legenda Liverpool Sambangi Jakarta, Antusiasme Fans Indonesia Bikin Sami Hyypia Terkejut

Bola | Minggu, 20 September 2026 | 22:24 WIB

64 Pesawat dan 54.394 Personel Dikerahkan Tangani Karhutla di Indonesia

64 Pesawat dan 54.394 Personel Dikerahkan Tangani Karhutla di Indonesia

News | Minggu, 20 September 2026 | 21:45 WIB

98 Resolution Network Kirim Ratusan Tenda dan Bantuan Pendidikan ke Lokasi Gempa NTT

98 Resolution Network Kirim Ratusan Tenda dan Bantuan Pendidikan ke Lokasi Gempa NTT

News | Minggu, 20 September 2026 | 21:32 WIB

Denny Indrayana Tantang Gibran Hadir di Sidang MK soal Keabsahan Cawapres

Denny Indrayana Tantang Gibran Hadir di Sidang MK soal Keabsahan Cawapres

News | Minggu, 20 September 2026 | 21:18 WIB

Houthi Ultimatum Arab Saudi: Serang Yaman, Bandara Bakal Hancur Lebur

Houthi Ultimatum Arab Saudi: Serang Yaman, Bandara Bakal Hancur Lebur

News | Minggu, 20 September 2026 | 21:05 WIB

Prabowo Minta Sanksi Pembakar Hutan Masuk Kategori Terorisme Ekologi

Prabowo Minta Sanksi Pembakar Hutan Masuk Kategori Terorisme Ekologi

Video | Minggu, 20 September 2026 | 21:01 WIB

5 Alasan Tarik Tunai di ATM Masih Terasa Merepotkan di Era Digital

5 Alasan Tarik Tunai di ATM Masih Terasa Merepotkan di Era Digital

Jabar | Minggu, 20 September 2026 | 20:58 WIB

×