Array

Terlalu Banyak Tabir Surya Halangi Asupan Baik Sinar Matahari

Selasa, 02 Mei 2017 | 15:29 WIB
Terlalu Banyak Tabir Surya Halangi Asupan Baik Sinar Matahari
Ilustrasi perempuan menggunakan tabir surya. (Shutterstock)

Suara.com - Sebuah studi kontroversial menyebutkan, tiga perempat populasi AS kekurangan vitamin sinar matahari, termasuk di antaranya  sekitar 95 persen mereka yang berasal dari golongan orang Afrika Amerika.

Kondisi tersebut naik dramatis dari awal 1990-an, ketika kurang dari setengah warga negara AS membutuhkan suplemen vitamin D.

Namun, sebuah makalah baru yang diterbitkan pada Senin memuat teori berbeda. Manusia saat ini menggunakan tabir surya yang sangat protektif sehingga menghalangi manfaat paparan sinar matahari.

"Orang-orang menghabiskan lebih sedikit waktu di luar dan ketika mereka pergi keluar, mereka biasanya memakai tabir surya, yang pada dasarnya menghilangkan kemampuan tubuh untuk menghasilkan vitamin D. Meskipun kami ingin orang melindungi diri dari kanker kulit, ada tingkat paparan sinar matahari yang aman dan moderat yang bisa sangat membantu dalam meningkatkan vitamin D," ungkap Asisten Profesor Dr Kim Pfotenhauer, dari Universitas Touro, California dilansir Daily Mail.

Lebih lanjut, Dr Pfotenhauer mengatakan, penyakit kronis seperti Diabetes Tipe 2, penyakit ginjal, penyakit Crohn, dan penyakit celiac sangat menghambat kemampuan tubuh untuk memetabolisme vitamin D dari makanan.

"Anda tidak perlu pergi berjemur di pantai untuk mendapatkan keuntungannya. Jalan sederhana dengan lengan dan kaki yang terbuka cukup bagi kebanyakan orang," jelas Dr Pfotenhauer.

Sumber makanan, seperti susu, sereal sarapan, dan jamur Portobello juga dipercaya kaya vitamin D. Penelitian lebih lanjut sedang berlangsung untuk mengetahui apakah kekurangan vitamin D berperan dalam multiple sclerosis, gangguan autoimun, infeksi, penyakit pernapasan, penyakit kardiometabolik, kanker, dan risiko patah tulang.

"Ilmuwan telah mencoba untuk menemukan korespondensi satu persatu antara tingkat vitamin D dan penyakit tertentu. Pekerjaan kami sebagai dokter osteopati adalah mengenali pasien yang perlu diuji dan diobati sesuai dengan itu," tandasnya.

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of the American Osteopathic Association.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI