Pustakawan Nasional Terbaik Akan Bertanding di Myanmar

Ririn Indriani | Firsta Nodia
Pustakawan Nasional Terbaik Akan Bertanding di Myanmar
Pemilihan Pustakawan Utusan Indonesia untuk Consal Outstanding Librarian Award 2018 di Perpustakaan Nasiona, Jakarta Pusat, Senin (12/3/2018). (Suara.com/Firsta Nodia)

Satu orang pustakawan terbaik Indonesia akan dikirim ke kongres bergengsi di Myanmar, Mei mendatang.

Suara.com - Perpustakaan Nasional akan mengirimkan pustakawan terbaik di Indonesia dalam ajang Consal (Congress of South East Asian Librarian) Outsanding Librarian Award 2018 pada Consal XVII General Conference di Naypitaw, Myanmar, Mei mendatang.

Satu orang pustakawan terbaik yang akan diberangkatkan ini dipilih dari pustakawan terbaik juara 1-3 pada kompetisi nasional sejak 2015 hingga 2017 yang berasal dari seluruh Indonesia.

Kepala Pusat Pengembangan Pustakawan Perpustakaan Nasional, Dra Opong Sumiati mengatakan bahwa kriteria pustakawan nasional terbaik yang akan dipilih nanti malam, antara lain harus memiliki kualifikasi dan aktif berkontribusi dalam pengembangan kepustakawanan di negara anggota ASEAN. Selain itu, lanjut dia, tergabung dalam anggota asosiasi profesi lebih dari lima tahun, dan bukan anggota dewan eksekutif CONSAL.

"Jadi, kompetisinya nanti bentuknya membandingkan capaian prestasi dalam bidang perpustakaan dari keseluruhan anggota negara ASEAN," ujarnya pada temu media di Jakarta, Senin (12/3/2018).

Opong menambahkan kompetisi pustakawan terbaik ini merupakan cara Perpustakaan Nasional menyeleksi sumber daya manusia terbaik dari Indonesia untuk menjadi contoh bagi pustakawan lainnya di Indonesia. Apalagi di tengah globalisasi, membuat perpustakaan tak lagi menjadi acuan masyarakat dalam mencari sumber informasi terpercaya.

"Pustakawan zaman sekarang tak hanya bertugas menyediakan jasa informasi tapi juga harus dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang tengah menjadi tren di masa kini," terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Perpustakaan Nasional, M Syarif Bando menargetkan pada 2019, Perpustakaan Nasional bisa berbasis inklusi nasional. Menurut dia, jumlah kunjungan anggota perpustakaan tak bisa dijadikan parameter untuk menentukan keberhasilan perpustakaan.

"Kita harus turun ke masyarakat. Dalam sidang kabinet Perpusnas dana 1 Triliun. Kita tidak perlu dana besar di pusat tapi rencananya akan menjangkau masyarakat di Indonesia Timur seperti Papua, NTT dan lainnya dengan mendirikan perpustakaan dan menambah koleksi buku," tandasnya.

Baca Juga
Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS