2. Tubuh kita bukan kuil suci namun tempat bermain, sehingga buatlah untuk berbahagia.

Foto: Ilustrasi mengolah ayam bakar di Afrika [Shutterstock].
Terjemahan sederhananya adalah, selagi travel tidak takut atau ragu mencoba menu atau hidangan yang belum pernah dilihat atau dicoba.
Apa yang biasa kita nikmati di negeri sendiri bisa berbeda bahkan mungkin tidak ada di negara lain. Berani mencoba artinya membuka diri terhadap hal-hal baru. Mulai menu menarik, unik, asyik, atau malahan tidak sedap, cobalah tanpa ragu.
Karena di situlah makna keberagaman, dan hal-hal baru mendatangkan kesenangan pula.
3. Kepiawaian bisa diajarkan, tetapi karakter tidak.

Foto: Ilustrasi travelling zaman now yang multi-gadget [Shutterstock].
- Bali United Taklukkan Persipura 2-0
Baca Juga
Melongok travelling zaman now, setiap orang yang bepergian bisa mengunggah potret tempat mereka berlibur secara mudah. Begitu pula sentuhan teknologi maju yang ikut memudahkan terciptanya momen perjalanan, dalam berbagai bentuk dokumentasi.
Tetapi, pilihan destinasi kita untuk travelling berangkat dari karakter masing-masing. Tidak bisa diajarkan pihak lain dan hal ini menunjukkan jati diri kita.
4. Kebijakan adalah kesadaran betapa kecil diri ini, dan ketidakbijakan adalah enggan paham sampai sejauh mana harus bepergian.

Foto: Ilustrasi berkontemplasi saat travelling [Shutterstock].
Maknanya bisa diartikan, saat travelling kita berkontemplasi untuk mengagumi segala ciptaan-Nya, dan sadar kita hanyalah satu bulir kecil dari karya maha besar.
Sedangkan dukungan finansial, waktu dan keinginan bisa membuat seseorang tidak mampu mengerem keinginan buat bepergian dan sampai sejauh mana. Diperlukan sebuah kearifan untuk memahami diri sendiri kapan mesti pergi dan kapan harus pulang.