Aneh Tapi Nyata, Sekolah Dasar di Korea Ini Diisi Oleh Para Lansia

Rima Sekarani Imamun Nissa | Kintan Sekarwangi
Aneh Tapi Nyata, Sekolah Dasar di Korea Ini Diisi Oleh Para Lansia
Ilustrasi sekolah. (Unsplash/Neonbrand)

Ternyata ada cerita mengharukan di balik itu semua.

Suara.com - Korea Selatan terlihat seperti sebuah negara yang padat penduduk. Namun ternyata kondisi tersebut tidak terjadi di beberapa kawasan rural di Negeri Gingseng itu.

Di daerah tersebut mengalami penurunan jumlah penduduk secara drastis selama beberapa tahun terakhir. Jumlah penduduk yang kian menyusut sampai membuat sejumlah sekolah nyaris tidak mempunyai murid.

Selama satu dekade terakhir, angka kelahiran bayi di Korea Selatan merosot tajam hingga dinilai mengancam kelangsungan populasinya. Menurut data, perbandingan jumlah bayi dan wanita di Korea pada 1960 berkisar di angka enam bayi per wanita.

Namun saat ini, jumlah rata-ratanya hanya 1,2 bayi per wanita. Angka ini lebih rendah dari standar, yaitu 2,1 bayi per wanita. Hal ini dinilai cukup untuk membantu menjaga jumlah populasi tanpa proses migrasi.

Berkurangnya tingkat kelahiran bayi turut berimbas pada dunia pendidikan di Korea. Sejumlah sekolah terancam tutup, karena tidak memiliki cukup murid.

Ilustrasi sekolah. (Unsplash/Jerry Wang)
Ilustrasi sekolah. (Unsplash/Jerry Wang)

Salah satunya adalah sekolah dasar Daegu yang berlokasi di kawasan Gangjin. Di era 1980-an, sekolah ini memiliki 90 murid di masing-masing kelasnya.

Namun saat ini, Daegu hanya memiliki total 22 murid. Ini jumlah keseluruhan murid di sekolah, bukan di masing-masing kelas. Bahkan, bangku kelas empat dan lima hanya diisi masing-masing satu orang murid.

Dilansir dari laman The New York Times, Lee Ju-young selaku kepala sekolah Daegu mengaku kewalahan dalam mencari murid. "Kami harus keliling desa untuk menjadi satu anak saja yang mau mendaftar sekolah, tetapi tidak ada," jelasnya.

Kepala sekolah tersebut kemudian mempunyai ide unik. Ia memutuskan untuk menerima pendaftaran murid bagi kaum lansia. Keputusan ini disambut antusias oleh sejumlah warga sekitar.

Sebanyak delapan nenek berusia 56 sampai 80 tahun mendaftarkan diri sebagai murid di Daegu. Salah satu murid baru di SD Daegu adalah Hwang Wol-geum, nenek berusia 70 tahun yang kini duduk di bangku kelas satu.

Ilustrasi nenek. (Unsplash/Bruno A)
Ilustrasi nenek. (Unsplash/Bruno A)

Nenek tersebut dalam sepanjang hidupnya buta huruf, mengingat kembali masa kecilnya yang tidak dapat menikmati bangku sekolah karena harus mengurus ternak milik keluarga dan merawat adik-adiknya.

Nenek ini memiliki enam orang anak dan semuanya ia sekolahkan hingga jenjang perguruan tinggi. Ketika ditanya mengenai motivasinya untuk masuk sekolah walau sudah berusia lanjut, Hwang Wol-geum pun memberikan jawaban yang membuat haru.

"Saya ingin bisa menulis surat untuk anak-anak saya, saya sudah memimpikan ini sejak dulu," jawab nenek tersebut.

Bahkan dirinya pun mengaku jika ia menangis saat tiba hari pertama masuk sekolah. "Saya tidak percaya akhirnya ini terjadi. Memakai tas sekolah sudah menjadi impian saya sejak lama," katanya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS