Karakter Pemimpin Perempuan di Film Harus Diperbanyak

Vania Rossa

Selasa, 08 Oktober 2019 | 19:42 WIB
Karakter Pemimpin Perempuan di Film Harus Diperbanyak
Ilustrasi bos perempuan dalam Film The Devil Wears Prada. (Vanity Fair)

Suara.com - Saat ini, ruang bagi perempuan yang terproduksi dalam film masih memandang secara sterotipe. Atau masih memperlihatkan bagian seksual perempuan yang mencolok di setiap adegan film tersebut. Bahkan, Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia, Dini Widiastuti, menyatakan, “Defisi representasi positif perempuan di media dapat berdampak pada gambar diri anak perempuan. Media massa, pengiklan, dan paktisi perfilman bisa bekerjasama mengurangi defisit ini dan membuka ruang lebih luas untuk narasi positif tentang perempuan dan perempuan pemimpin."

Dini Widiastuti juga mengatakan, andai lebih banyak lagi profil perempuan sebagai pemimpin ada di media dan film, niscaya akan lebih mudah bagi anak-anak perempuan untuk membayangkan dirinya menjadi pemimpin.

Dilansir dari siaran pers Infographic-Stereotipe Gender masih Kental di Industri Film dan Iklan yang diterima Suara.com, Plan International yang bekerjasama dengan Greena Davis Institute on Gender In Media (GDIGM), menyoroti seksisme di industri film dan iklan melalui laporan terbaru berjudul Rewrite Her Story. Laporan tersebut dibuat berdasarkan opini/pendapat lebih dari 10.000 anak perempuan di beberapa negara.

Laporan ini menganalisis 56 film terlaris sepanjang tahun 2018 di 20 negara dan 108 iklan di 5 negara. Laporan tersebut diluncurkan menjelang Hari Anak Perempuan Internasional pada tanggal 11 Oktober 2019. Hal ini menunjukkan demi membangun narasi yang berdampak bagi opini anak perempuan. Dan potret perempuan dan pemimpin yang kerap tampil di layar kaca sangat mempengaruhi bagaimana anak perempuan menilai dirinya serta melihat konsep sebuah kepemimpinan di dalamnya.

Beberapa temuan yang ada di dalam laporan Rewrite Her Story tersebut di antaranya hampir seluruh responden berjumlah (94%) berpendapat bahwa perempuan yang menjadi pemimpin tidak mendapat perlakuan sebaik laki-laki yang juga menjadi pemimpin hanya karena masalah gender. Karakter tokoh aktris, yang digambarkan sebagai seorang pemimpin, lebih sering dikomodifikasi secara seksual dibanding aktor. Tokoh perempuan yang diperankan dalam film tersebut empat kali lebih sering ditampilkan berbusana terbuka dibanding laki-laki (30% banding 7%) dan hampir lebih dua kali lebih sering tampak separuh telanjang.

Perempuan juga dianggap lebih efektif menjadi pemimpin di keluarga dan komunitas (81%) dibanding laki-laki (62%). Sementara laki-laki digambarkan lebih efektif menjadi pemimpin di tingkat nasional (57%) dibanding perempuan (27%).

Beberapa perempuan sebagai pembuat film turut diwawancara untuk melihat bagaimana partisipasi mereka di industri film, yang juga ternyata masih minim. Dari 250 film terlaris tahun 2018 di Amerika, hanya 20% perempuan yang menempati posisi sutradara, penulis, produser, editor, dan sinematografer. Bahkan, hanya sekitar 2 dari 250 film tersebut yang mempekerjakan setidaknya sepuluh perempuan dalam satu produksi film yang sama. Sementara, sekitar 185 film lainnya mempekerjakan lebih dari 10 laki-laki untuk posisi kunci di atas.

Asumsi-asumsi sosial yang mereduksi ruang gerak perempuan di sekitar sumur, dapur, dan kasur juga mendapat protes dari anak-anak yang turut mengevaluasi 108 iklan di Jepang, India, Republik Dominika, Senegal, dan Sudan Selatan. Mereka mengkritisi sebuah komodifikasi tubuh perempuan untuk promosi produk, juga tuntutan bahwa model perempuan harus cantik, dan ruang gerak perempuan yang juga dibatasi di rumah. Dan laki-laki, sementara, digambarkan sebagai pemimpin yang lebih cerdas.

Di konteks Indonesia, opini serupa terlihat dari hasil polling yang dilakukan Plan Indonesia dan U-Report dengan responden 2968 anak laki-laki dan perempuan berusia 12-18 tahun. Sebanyak 85,3% responden menyatakan perempuan kerap ditampilkan sebagai korban kekerasan seksual dan 77,2% berpendapat bahwa laki-laki lebih sering ditokohkan sebagai pemimpin di tayangan media.

baca juga

Aktris Hollywood ternama, Greena Davis, menegaskan, “Film dan media berpengaruh hebat pada cara pandang anak perempuan terhadap dirinya sendiri dan cara dunia melihat mereka. Anak perempuan perlu melihat diri dan karakter mereka tercermin di layar. Karakter positif dan otentik dapat menginspirasi mereka untuk berkembang. Pembuat konten di industri media dan entertainment berkesempatan mempengaruhi aspirasi anak perempuan dengan cara menghentikan stereotype gender yang merusak.” (Aflaha Rizal)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hobi Nonton Film Disebut Bikin Lebih Cepat Tua, Ini Penjelasannya

Hobi Nonton Film Disebut Bikin Lebih Cepat Tua, Ini Penjelasannya

Lifestyle | Selasa, 08 Oktober 2019 | 15:05 WIB

Acha Septriasa Jadi Host Infotainment?

Acha Septriasa Jadi Host Infotainment?

Entertainment | Selasa, 08 Oktober 2019 | 12:50 WIB

Kenali Gangguan Delusi di Film Joker, Seperti Ini Penyebab dan Gejalanya!

Kenali Gangguan Delusi di Film Joker, Seperti Ini Penyebab dan Gejalanya!

Health | Selasa, 08 Oktober 2019 | 12:10 WIB

Terkini

103 Atlet Indonesia Berjuang di Asian Para Games 2026, Reda Manthovani Minta Dukungan WNI di Jepang

103 Atlet Indonesia Berjuang di Asian Para Games 2026, Reda Manthovani Minta Dukungan WNI di Jepang

Sport | Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:31 WIB

Demi Bisa Rusuh dan Serang Lawan! Kelompok Suporter Ini Selundupkan Petasan Pakai Kondom

Demi Bisa Rusuh dan Serang Lawan! Kelompok Suporter Ini Selundupkan Petasan Pakai Kondom

Bola | Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:30 WIB

Gus Lilur Resmi Laporkan Dugaan Jual Beli Suara dan Suap di Muktamar NU ke KPK

Gus Lilur Resmi Laporkan Dugaan Jual Beli Suara dan Suap di Muktamar NU ke KPK

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Punya Kesamaan Kebutuhan Perawatan Kulit, Produk Kecantikan Indonesia Mulai Merambah Malaysia

Punya Kesamaan Kebutuhan Perawatan Kulit, Produk Kecantikan Indonesia Mulai Merambah Malaysia

Lifestyle | Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:45 WIB

Synchronize Fest 2026 Hadirkan Maliq & DEssentials hingga Project Pop, Catat Tanggalnya

Synchronize Fest 2026 Hadirkan Maliq & DEssentials hingga Project Pop, Catat Tanggalnya

Entertainment | Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:21 WIB

Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Minta Semua Dakwaan Dibatalkan, Ingin Langsung Bebas

Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Minta Semua Dakwaan Dibatalkan, Ingin Langsung Bebas

Video | Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:10 WIB

Kendal Tornado FC Waspadai Agresivitas Persiba, Peluang Puncak Bukan Prioritas

Kendal Tornado FC Waspadai Agresivitas Persiba, Peluang Puncak Bukan Prioritas

Jawa Tengah | Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:05 WIB

Polres Cianjur Selidiki Temuan Mayat Perempuan Tanpa Identitas di Tanggeung

Polres Cianjur Selidiki Temuan Mayat Perempuan Tanpa Identitas di Tanggeung

Jabar | Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tolak Parliamentary Threshold, Masyumi Segera Sampaikan Usulan ke DPR

Tolak Parliamentary Threshold, Masyumi Segera Sampaikan Usulan ke DPR

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:58 WIB

KPK Amankan 14 Orang dalam OTT BNPB, Hanya Lima Ditetapkan Tersangka, Ada Apa?

KPK Amankan 14 Orang dalam OTT BNPB, Hanya Lima Ditetapkan Tersangka, Ada Apa?

Jatim | Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:56 WIB

×