alexametrics

Ali Muharam, Rintis Makaroni Ngehe dari Cuci Piring

Vania Rossa | Dinda Rachmawati
Ali Muharam, Rintis Makaroni Ngehe dari Cuci Piring
Ali Muharam, Pendiri Makaroni Ngehe. (Suara.com/Dinda Rachmawati)

Siapa yang tidak kenal camilan Makaroni Ngehe sekarang ini?

Suara.com - Mayoritas generasi milenial tentu tidak asing ketika mendengar kata Makaroni Ngehe. Jajanan ringan kaya varian rasa dan menu yang tengah digandrungi ini memang memiliki banyak cabang di Jakarta.

Tak jarang, kita melihat antrian yang mengular di beberapa outlet Makaroni Ngehe. Banyak dari mereka yang rela untuk jauh-jauh memburu camilan populer yang didirikan oleh pebisnis Ali Muharam ini.

Namun, kesuksesan yang kini diraihnya tidak semudah yang dipikirkan orang lain. Dikisahkan Ali, dirinya harus merasakan berbagai profesi terlebih dahulu, mulai dari menjadi seorang pencuci piring di warung makan hingga penulis naskah untuk berbagai judul sinetron.

Makaroni Ngehe. (Instagram/@ngehe_id)
Makaroni Ngehe. (Instagram/@ngehe_id)

Langkah ini ia mulai saat dirinya tepat memutuskan untuk merantau ke Jakarta, dari kampung halamannya di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 2005 silam.

Baca Juga: Idap Kelainan, Pemuda Ini Hanya Makan Makaroni Keju Seumur Hidup

"Secara akademis saya tidak kuliah. Secara koneksi pun saya tidak punya siapa-siapa. Tapi saya merasa ini bukan sesuatu hal yang menyedihkan atau memalukan. Itulah proses yang memang harus dilewati untuk mencapai kesuksesan," kata dia beberapa waktu lalu.

Hingga pada satu titik, Ali pun berpikir jika dirinya harus melakukan satu kebaikan untuk orang lain dengan bisa mempekerjakan satu orang pengangguran. Ali percaya, dengan memberikan kebaikan untuk orang lain, Tuhan akan memberikan reward baginya.

"Untuk membangun makaroni ini harus ada planning, yaitu 50 persen plan dan 50 persen nekat. Kadang dalam hidup kita harus gambling. Ketika kita sudah punya gambaran, bayaran dari gambling itu worth it," ucapnya sambil tertawa.

Outlet Makaroni Ngehe. (Instagram/@ngehe_id)
Outlet Makaroni Ngehe. (Instagram/@ngehe_id)

Ketika sang ibu sudah tiada, Ali memutuskan untuk menggunakan resep camilan makaroni yang sering disediakan di rumahnya untuk tamu yang datang. Apalagi, ia teringat mimpi sang ibu yang ingin memiliki sebuah bisnis untuk membantu perekonomiam keluarga.

Hal ini ia dijadikan sebagai langkah awal dalam membuka usaha makaroni di sebuah gerobak kecil.

Baca Juga: Buku Ngehe, Langkah Awal Sang Bos Makaroni Jadi Seorang Penulis

"Mama bilang coba dulu kepikiran punya bisnis. Mama mungkin bisa bahagia kalau keinginannya terwujud," jelasnya.

Rupanya, bisnis ini terus tumbuh. Dari berjualan lewat gerobak menjadi sebuah gerai kecil berukuran 2x3,5 meter di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, yang modalnya ia pinjam dari seorang teman sebesar Rp 20 juta.

Tahap demi tahap dia lalui, mulai dari penataan konsep warna toko, tata pencahayaan, hingga memasak, dan melayani sendiri.

"Saya jalani sendiri, dan saya tidur di sana menyatu dengan dapur di outlet pertama, setiap habis operasional pukul 22.00 WIB, saya bersihkan lumuran minyak, saya pel, kemudian pakai alas kertas roti dan tumpukan selimut untuk tidur setiap harinya," cerita Ali.

Usahanya pun tak sia-sia, dari omzet satu bulan per outlet sekitar Rp 30.000 per hari, akhirnya delapan bulan usahanya berjalan, Ali mampu mengembalikan modal usaha yang dia pinjam sebesar Rp 20 juta.

Hingga saat ini, gerai Makaroni Ngehe sudah tersebar di area Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Karawang, Purwokerto, Semarang, Surabaya, Malang, dan Palembang. Camilan ini sudah memiliki 33 outlet dan sekitar 350 karyawan.

Nama 'Ngehe' sendiri, jelas dia, selain diambil dari sebuah umpatan karena perjalanan hidupnya yang sulit, belakangan memiliki arti yang sangat inapiratif, yakni Nationalism, Giving, Enterpreneurship, Humanism, dan Envorinment.

"Intinya, ketika kita punya target sejauh mana kita mau jadi seseorang, ketika punya proyeksi diri di masa depan, seberat apapun pasti kita bisa lalui," tutupnya.

Komentar