Catat, 5 Alasan Mengapa Memiliki Bayi Bukan Cara Mencegah Perceraian

M. Reza Sulaiman | Dinda Rachmawati
Catat, 5 Alasan Mengapa Memiliki Bayi Bukan Cara Mencegah Perceraian
ilustrasi pasangan bertengkar dan tidak harmonis. (Shutterstock)

Banyak pasangan dengan masalah yang sulit terselesaikan, sering berbeda pandangan, hingga nyaris bercerai, memilih untuk memiliki bayi. Benarkah langkah ini?

Suara.com - Catat, 5 Alasan Mengapa Memiliki Bayi Bukan Cara Mencegah Perceraian

Banyak pasangan dengan masalah yang sulit terselesaikan, sering berbeda pandangan, hingga nyaris bercerai, memilih untuk memiliki bayi. Memiliki bayi mungkin bisa menjadi solusi bagi mereka untuk merekatkan kembali hubungan yang telah terasa jauh.

Jika Anda juga berpikir demikian, sebaiknya hentikan dari sekarang. Memutuskan untuk memiliki seorang bayi dalam hubungan yang renggang justru akan semakin memperburuk keadaan.

Ini dikarenakan Anda harus menambah tanggung jawab di dalamnya, merasa semakin stres dan mungkin tertekan karena rutinitas kehidupan yang tak lagi sama, serta hormon yang mungkin akan mengacak-acak suasana hati Anda.

Padahal, hubungan merupakan kerja keras, tentang bagaimana dua orang bisa menyelesaikan konflik dengan baik dan saling mendukung satu sama lain. Sehingga saat Anda merasakan ada hal yang salah dalam hubungan Anda, memilih memiliki bayi tidak akan memperbaiki konflik tersebut.

Berikut adalah alasan lain, mengapa memiliki bayi seharusnya bukanlah pilihan sebagai jalan keluar Anda lepas dari masalah hubungan, seperti yang dilansir Bright Side.

1. Prioritas Anda mungkin tidak lagi sama

Jika pasangan tidak berbagi prioritas satu sama lain, kemungkinan mereka akan memiliki masalah yang membuat hubungan mereka justru tidak berkembang, dan kehadiran seorang bayi justru dapat memperburuk keadaan.

Apalagi jika sebelumnya Anda dan pasangan tidak biasa bekerjasama sebagai tim, maka Anda dan pasangan tidak akan bisa melewati hal tersebut dengan baik. Belum lagi, jika salah satu dari Anda tidak melihat bayi sebagai prioritas, segalanya pasti berantakan.

Ilustrasi pasangan bertengkar [shutterstock]
Ilustrasi pasangan bertengkar [shutterstock]

2. Anda dan pasangan akan memiliki waktu lebih sedikit untuk berbicara dan menyelesaikan masalah

Masalah hanya bisa dipecahkan melalui komunikasi. Ketika seorang bayi hadir di tengah-tengah Anda dan pasangan, tentu ini akan membuat waktu yang Anda habiskan bersama pasangan menurun.

Bayi tidak hanya membutuhkan banyak waktu, tetapi juga kehadiran orantuanya yang selalu ada untuknya. Orangtua baru mendapatkan lebih sedikit kesempatan untuk mengkomunikasikan kesulitan dan mencari solusi bersama sehingga, masalah yang belum terpecahkan malah akan semakin intensif.

Ilustrasi seorang ibu mengajarkan anak menjadi pemaaf. (Shutterstock)
Ilustrasi seorang ibu mengajarkan anak menjadi pemaaf. (Shutterstock)

3. Anda akan mengembangkan persepsi bahwa salah satu dari Anda lebih bekerja lebih keras daripada yang lain

Saat memiliki bayi, Anda dan pasangan tidak hanya bertanggung jawab atas diri Anda sendiri, tetapi juga manusia kecil baru yang harus Anda rawat. Jumlah dedikasi dan kerja keras yang diberikan orangtua untuk merawat bayi harus didistribusikan secara merata.

Jika tidak, salah satu dari mereka bisa merasa terlalu bekerja keras daripada yang lain, yang hanya akan menyebabkan lebih banyak masalah, menurut para ahli.

Ilustrasi ibu mengasuh anak sembari mengakses internet. (Shutterstock)
Ilustrasi ibu mengasuh anak sembari mengakses internet. (Shutterstock)

4. Anda dan pasangan mungkin memiliki ketidaksepakatan tentang mengasuh dan membesarkan anak

Karena kedua orangtua berasal dari keluarga yang berbeda dan kadang-kadang dari latar belakang budaya yang berbeda, terkadang mereka memiliki ide dan tujuan masing-masing mengenai pengasuhan yang ideal.

Mungkin yang satu tidak memperbolehkan anak mereka menonton TV di rumah, dan yang lain berpikir itu bisa menstimulasi bayi. Apapun itu, penelitian menegaskan bahwa perbedaan pendapat terkait dengan bentuk pengasuhan yang benar pasti akan muncul, menambah ketegangan ekstra pada hubungan.

Ilustrasi mertua bertengkar dengan menantu [shutterstock]
Ilustrasi mertua bertengkar dengan menantu [shutterstock]

5. Anggota keluarga dapat menekan hubungan

Tidak semua orang akur dengan mertua mereka. Ini mungkin akan menjadi tambah buruk dengan kehadiran anggota baru keluarga. Mereka dan anggota keluarga lainnya seperti bibi, paman, hingga sepupu dapat mulai membuat penilaian tentang cara Anda dan pasangan merawat bayi yang baru lahir.

Jika mereka terlalu ingin tahu, mereka dapat secara terbuka mengungkapkan ketidaksetujuan mereka, yang dapat membebani Anda dan pasangan. Ini hanya akan membuat stres dan memfasilitasi pertengkaran di antara Anda dan pasangan, terutama jika setiap keluarga memiliki nilai dan prioritas pengasuhan yang berbeda.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS