alexametrics

Dianggap Terlalu Sensual, Penari Perut Asal Mesir Terancam Penjara

Silfa Humairah Utami | Amertiya Saraswati
Dianggap Terlalu Sensual, Penari Perut Asal Mesir Terancam Penjara
Penari Perut Sama el-Masry (instagram.com/samaelmasrii)

Videonya di TikTok dinilai tak senonoh dan menggoda kaum lelaki.

Suara.com - Pekerjaan penari perut biasanya identik dengan penampilan yang seksi. Namun, seorang penari perut Mesir terancam dihukum karena penampilannya yang dianggap terlalu sensual.

Sama el-Masry, 42 tahun, adalah seorang penari perut asal Mesir. Karena pekerjaannya, Sama el-Masry sudah kerap bermasalah dengan pandangan konservatif di negaranya.

Menyadur The Sun, konten TikTok yang diunggah Sama el-Masry pun menjadi masalah karena dianggap terlalu seksual dan sugestif.

Akibatnya, pengadilan di Kairo pun menganggapnya telah melanggar nilai-nilai keluarga serta melakukan tindakan tak senonoh lewat akun media sosial.

Baca Juga: Dinyatakan Positif Covid-19, Pria Mesir Lempar Istri dari Lantai Lima

Bahkan, para politikus di Mesir telah mengecap bahwa tindakan Sama el-Masry tersebut sama dengan "pelacuran" dan tidak bisa disebut sebagai kebebasan berekspresi.

Penari Perut Sama el-Masry (instagram.com/samaelmasrii)
Penari Perut Sama el-Masry (instagram.com/samaelmasrii)

Di sisi lain, el-Masry menanggapi tuntutan tersebut dengan berkata bahwa konten yang ada di TikTok merupakan konten yang dicuri dari ponselnya dan diunggah tanpa izin.

Mesir sendiri diketahui memiliki hukum seputar sensor dan pengawasan konten di dunia maya yang disahkan pemerintah sejak tahun 2018 silam.

Sejak saat itu, banyak influencer perempuan di media sosial yang menjadi target dan terancam pidana oleh pemerintah Mesir.

Sama el-Masry kini dikabarkan terancam 3 tahun penjara dan denda sebesar 15.000 poundsterling atau Rp 271,1 juta.

Baca Juga: Longgarkan Pembatasan, Kasus Covid-19 di China, Korsel, dan Mesir Meningkat

Penari Perut Sama el-Masry (instagram.com/samaelmasrii)
Penari Perut Sama el-Masry (instagram.com/samaelmasrii)

Menanggapi kasus ini, pengacara hak asasi manusia untuk perempuan Entessar el-Saeed mengkritik hukum yang dianggap mendiskriminasi kaum perempuan tersebut.

Komentar