alexametrics

Hindari Makan di Restoran saat Pandemi, Perhatikan 5 Tanda Bahaya Ini

Rima Sekarani Imamun Nissa | Arendya Nariswari
Hindari Makan di Restoran saat Pandemi, Perhatikan 5 Tanda Bahaya Ini
ilustrasi makan di restoran [shutterstock]

Ragu saat ingin makan di restoran saat pandemi? Ada baiknya perhatikan 5 hal berikut ini terlebih dahulu.

Suara.com - Meski pandemi belum berakhir, sejumlah restoran, kafe dan warung makan di berbagai wilayah sudah kembali buka. Orang-orang juga mulai memberanikan diri untuk makan di restoran.

Hanya saja, demi mencegah penularan COVID-19, beberapa restoran tetap membatasi jumlah kunjungan dan memberlakukan protokol kesehatan yang wajib dipatuhi pelanggan.

Namun wajib dipahami, meskipun protokol kesehatan tetap dijalankan, bukan berarti makan di restoran sudah sepenuhnya aman dan terbebas dari ancaman COVID-19.

Kita tentu mesti berkaca dari beberapa peristiwa yang terjadi pada sejumlah tempat makan di Indonesia. Sebut saja klaster virus  corona Warung Kepala Manyung Bu Fat di Semarang dan Warung Soto Lamongan di Yogyakarta.

Baca Juga: CDC: Sebelum Sakit, Orang dengan Covid-19 Cenderung Makan di Restoran

Ilustrasi makan di restoran saat new normal. (Shutterstock)
Ilustrasi makan di restoran saat new normal. (Shutterstock)

Makan di restoran tanpa mengamati beberapa hal penting bisa jadi bumerang bagi kesehatan Anda. Oleh karenanya, berikut Suara.com rangkum 5 tanda bahwa Anda lebih baik makan di rumah dari laman Insider, Rabu (15/9/2020).

Ventilasi atau saluran udara di restoran buruk

Kondisi ventilasi yang baik di sebuah restoran tentu saja menjadi kunci pencegahan penularan COVID-19 secara optimal. Sebaliknya, jika sirkulasi udara di restoran itu buruk, hal ini tentu saja akan meningkatkan kemungkinan terjadinya penularan COVID-19.

Adanya sejumlah jendela dan ruang terbuka bisa menjadi pertanda bahwa restoran tersebut memiliki sirkulasi udara cukup baik. Anda wajib khawatir ketika restoran yang Anda kunjungi begitu tertutup tanpa adanya jendela.

Insinyur HVAC Theres Pistochini mengatakan kepada Insider bahwa umumnya bangunan tua lebih aman dibandingkan gedung baru.

Baca Juga: Ramah Kantong, Nih Ada Promo Menarik dari 5 Restoran Jepang Kesayanganmu!

Pada tahun 1970, beberapa arsitek mulai membuat bangunan tertutup dengan tujuan menghemat energi. Namun sayangnya, hal ini bisa menjadi tempat penularan sempurna bagi virus corona karena kondisi ventilasi yang dinilai buruk.

Komentar