Serupa Namun Tak Sama, Batik Besurek, Sasirangan dan Jumputan

Fabiola Febrinastri | Dian Kusumo Hapsari
Serupa Namun Tak Sama, Batik Besurek, Sasirangan dan Jumputan
Museum Bank Indonesia. (Dok : Shutterstock).

Meskipun sama-sama menggunakan konsep halang rintang, sebenarnya terdapat perbedaan dari masing-masing kain tradisional khas Indonesia tersebut.

Suara.com - Indonesia memiliki banyak sekali ragam kain tradisional yang mempesona sebagai budaya turun-temurun yang terus menarik perhatian dunia. Selain mempesona, banyak dari ragam kain tradisional tersebut yang menjadi kebanggaan warga negara Indonesia.

Kain yang diproduksi dengan metode halang rintang adalah salah satu jenis kriya yang paling umum dan dikenal oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, tak jarang metode ini menjadi salah satu materi pembelajaran di sekolah.

Beberapa kain tradisional yang menggunakan metode dengan konsep halang rintang diantaranya ialah: Batik, Besurek, Sasirangan, dan Jumputan.

Meskipun sama-sama menggunakan konsep halang rintang, sebenarnya terdapat perbedaan dari masing-masing kain tradisional khas Indonesia tersebut.

Baca Juga: Whisnutama Akan Rombak Anggaran Kemenpar untuk Lawan Corona

Apa saja perbedaannya? Yuk, pelajari ciri khas pembuatan dari masing-masing kain tradisional supaya kamu bisa mengenal ragam kain tradisional Indonesia lebih jauh lagi dan menemukan inspirasi destinasi wisatamu untuk liburan setelah pandemi nanti di website #DiIndonesiaAja.

1.Kain Jumputan

Kain jumputan adalah salah satu ragam kain hias yang populer dan mudah dibuat. Sesuai dengan namanya, kain jumputan dapat dibuat dengan mengikat kain dan mencelupkannya ke dalam pewarna. Bagian kain yang tertutupi pengikat itulah yang akan memberikan motif dengan warna asli kain. Nah, jenis kain inilah yang biasanya menjadi materi belajar bagi siswa di sekolah.

Teknik jumputan berasal dari China dan diperkenalkan oleh saudagar India dan diadaptasi oleh masyarakat Indonesia dengan menggunakan sumber daya yang ada. Dulu, pewarna yang digunakan adalah pewarna alami, namun saat ini tidak sedikit juga jumputan yang kemudian dibuat dengan pewarna tekstil untuk menghasilkan kain dengan warna yang lebih cerah dan beragam.

Selain mudah dibuat, kain ini pun dapat diproses dengan cepat dan lebih murah. Meski demikian, kain ini sering dianggap sebagai kreasi kain batik. Padahal mereka sangat berbeda lho! Apa bedanya?

Baca Juga: Kemenpar Kembangkan Desa Wisata, Ini 5 Desa yang Patut Dikunjungi

2.Batik

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS