facebook

Gelar Karya Kreatif Jadi Cara Lestarikan Budaya di Situs Warisan Dunia

Bimo Aria Fundrika
Gelar Karya Kreatif Jadi Cara Lestarikan Budaya di Situs Warisan Dunia
Gelar Karya Kreatif. (Dok: Citi Foundation)

Kita Muda Kreatif dirancang untuk mendukung peningkatan kapasitas bisnis para wirausahawan muda dalam berbagai aspek, mulai dari kewirausahaan, literasi keuangan.

Suara.com - Situs warisan di Indonesia memainkan peran penting dalam pelestarian nilai-nilai warisan budaya dan memberikan pengalaman budaya bagi para pengunjung internasional dan domestik.

Sayangnya, hal itu tidak selalu bedampak langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat lokal. Padahal jumlah wisawatan yang mengunjungi situs warisan dunia di Indonesia terus meninggkat. 

Untuk itu, UNESCO Jakarta dan Citi Foundation telah melibatkan 400 wirausahawan muda di enam situs populer di seluruh Indonesia sejak 2017, guna meningkatkan kesadaran tentang pelestarian warisan budaya. Hal ini juga sekaligus meningkatkan taraf hidup dan pencaharian masyarakat yang tinggal di sekitar situs warisan budaya tersebut.

Dalam keterangannya, Kamis, (26/11/2020), Director and Representative of UNESCO Office, Jakarta, menjelaskan bahwa program Kita Muda Kreatif dirancang untuk mendukung peningkatan kapasitas bisnis para wirausahawan muda dalam berbagai aspek, mulai dari kewirausahaan, literasi keuangan, hingga dukungan jenama.

Baca Juga: Hari Ini, 4 Pebisnis Akan Bagikan Kiat Wirausaha Kala Pandemi

Gelar Karya Kreatif. (Dok: Citi Foundation)
Gelar Karya Kreatif. (Dok: Citi Foundation)

"Kami mendorong generasi muda untuk berkolaborasi satu sama lain, dan kami berharap mereka makin mengenal budaya mereka dan menjadikannya sebagai inspirasi,” ungkap Shahbaz Khan, Director and Representative of UNESCO Office, Jakarta.

Sementara itu, Country Corporate Affairs Head, Puni A. Anjungsari, juga mengatakan, bahwa selama pandemi Covid-19, program ini terus memberikan dukungan kepada para wirausaha muda dan mengadakan lebih dari 90 pelatihan daring melalui WhatsApp, Zoom, dan YouTube, antara Maret dan November 2020.

"Tema-tema pelatihan yang diberikan meliputi pengembangan produk, literasi keuangan, perencanaan bisnis, pemasaran dan jenama; serta latar belakang sejarah dan nilai situs warisan, dan penguatan jejaring dengan pihak-pihak pemerintah, kalangan bisnis profesional, pakar-pakar warisan budaya, serta para pengusaha retail," kata dia.

Puni mengungkapkan bahwa dalam survei internal yang dilakukan pada November 2020, prograam ini mendukung terciptanya lebih dari 200 jenama wirausaha muda lokal yang terinspirasi dari budaya setempat.

Selain itu hampir 25 persen dari mereka mengalami peningkatan pendapatan dan 30 persen dari wirausaha muda ini berhasil mengembangkan produk baru.

Baca Juga: Besok, Simak Kiat Wirausaha Kala Pandemi dari 4 Pebisnis Muda

Pemilik ACAS Mode dari Sipoholon, dari Tapanuli Utara, yang juga salah satu penerima manfaat yang aktif di program ini, mengatakan bahwa program ini tidak hanya meningkatkan pendapatan usaha nya di sektor fashion, tapi pengetahuan tentang sejarah dan filosofi kain Ulos.

Komentar