alexametrics

Nenek Bromo Tengger, Kisah Pejuang Lingkungan Lestarikan Alam

Bimo Aria Fundrika
Nenek Bromo Tengger, Kisah Pejuang Lingkungan Lestarikan Alam
Nenek Bromo Tengger, Kisah Pejuang LIngkungan Lestarikan Alam. (Dok: Istimewa)

"Kita melihat dunia ini mengalami ancaman krisis terutama krisis air, di mana pada 2025-2030 dunia akan mengalami krisis air," kata Gus Imam.

Suara.com - Isu pemanasan global dan krisis iklim makin sering terdengar beberapa waktu belakangan. Situasi ini menimbulkan sejumlah kekhawatiran dengan nasib kehidupan anak cucu beberapa tahun ke depan.

Melihat situasi tersebut, pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) menggagas sebuah film pendek yang mengisahkan perjuangan seorang nenek dan cucunya untuk menyelamatkan daerah mereka dari ancaman krisis air akibat kerusakan lingkungan.

Film ini juga mengajak untuk mengelola dan memanfaatkan sampah botol plastik bekas untuk kebutuhan sehari hari termasuk menjadi pot media tanam di halaman rumah.

Film berjudul “Nenek Bromo Tengger” ini merupakan hasil karya Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU), Imam Pituduh (Gus Imam) yang didukung oleh Danone-AQUA.

Baca Juga: Diklaim Bisa Bantu Krisis Iklim, Ilmuwan Ciptakan Cat Paling Putih di Dunia

Nenek Bromo Tengger, Kisah Pejuang LIngkungan Lestarikan Alam. (Dok: Istimewa)
Nenek Bromo Tengger, Kisah Pejuang LIngkungan Lestarikan Alam. (Dok: Istimewa)

“Gagasannya sebenarnya dari film ini yang pertama terhadap krisis ekologi. Kita melihat dunia ini mengalami ancaman krisis terutama krisis air,  di mana pada 2025-2030 dunia akan mengalami krisis air,” ujar Gus Imam, dalam keterangannya yang diterima Suara.com, Jumat, (21/5/2021).

Gus Imam melanjutkan, yang kedua kedua adalah krisis ancaman bencana ekologi di Pulau Jawa, terutama di nusantara kita secara umum itu sudah luar biasa. Dari dua landasan tadi Gus Imam ingin mewujudkan sustainable livelihood dan penopang kehidupan sehari-hari.

“Kerjasama dengan AQUA itu karena mereka misinya sama dengan kita dalam upaya penyelamatan lingkungan. Khususnya di Bromo, itu kan ada juga program konservasi air mereka di sana,” tukasnya.
 
Arif Mujahidin, Corporate Communications Director Danone Indonesia mengatakan bahwa dukungan terhadap pembuatan film edukasi ini karena Danone memiliki semangat One Planet One Health yang seirama dengan tema film tersebut.

Nenek Bromo Tengger, Kisah Pejuang LIngkungan Lestarikan Alam. (Dok: Istimewa)
Nenek Bromo Tengger, Kisah Pejuang LIngkungan Lestarikan Alam. (Dok: Istimewa)

“Kami percaya bahwa kesehatan manusia berkaitan erat dengan kesehatan planet kita, jadi kampanye dan edukasi untuk menjaga kesehatan planet harus mendapat dukungan dari semua pihak,” kata Arif.

Imam menambahkan, bahwa air sebagai penopang kehidupan tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya tanaman. Artinya, tanaman ini harus terus ada sehingga keberadaan air masih tetap ada. Jadi, kalau kita berbicara tentang air maka kita harus berbicara hutan.

Baca Juga: Waspada, Bibit Siklon 94w Berpotensi Kuat Menjadi Siklon Tropis

"Nah, perintah agamanya, tanamlah pohon itu meski esok kiamat. Jadi meskipun besok ada kiamat, jika di tangan kita ada pohon, itu wajib ditanam. Jadi, itu yang menjadi landasan kenapa film ini harus ada,” tuturnya.
 
Mengenai alasan kenapa harus dimainkan tokoh nenek-nenek dan cucunya dalam film ini, menurut dia karena itu menggambarkan bahwa orangtua itu yang akan meneruskan ke generasi ke depan untuk cinta terhadap lingkungan. Selain itu, film ini juga menyelipkan pesan bagaimana mengalirkan air dari sumbernya ke hilir dengan baik.

Komentar