Apa Itu Toxic Masculinity dan Dampaknya Pada Laki-Laki?

Vania Rossa, Aflaha Rizal Bahtiar

Senin, 18 Oktober 2021 | 12:51 WIB
Apa Itu Toxic Masculinity dan Dampaknya Pada Laki-Laki?
Ilustrasi toxic masculinity [shutterstock]

Suara.com - Dalam lingkungan sosial, ada banyak macam racun di dalam setiap hubungan. Tak hanya racun dalam pertemanan, tapi juga dalam sebuah hubungan. Dan tahukah kamu, racun juga bisa tertanam pada seorang laki-laki, yang kerap disebut sebagai toxic masculinity.

Toxic masculinity ini berawal ketika keluarga mulai menanamkan paham kepada anak laki-lakinya bahwa ia harus menjadi laki-laki kuat dan tidak mudah cengeng. Padahal, hal ini bisa berdampak pada laki-laki menjadi sulit untuk mengungkapkan ekspresinya.

Seperti tak adil. Jika laki-laki tak boleh lemah dan cengeng, hal ini justru dianggap wajar pada perempuan. Hal ini lantaran perempuan dianggap berhati lemah, mudah terluka, dan mudah menangis.

Penanaman ini tentu saja tidak baik, karena dapat melahirkan ketidaksejajaran sosial, baik itu pada sisi laki-laki maupun perempuan.

Mengutip dari Verywell Mind, maskulinitas merupakan konsep yang tidak mudah didefinisikan. Penanaman paham tentang kejantanan ini bahkan telah menjadi sebuah praktik yang umum, melintasi waktu, budaya, dan juga individu.

Tentang toxic masculinity ini coba diungkap oleh American Psychological Association, di mana secara khusus standar yang diharapkan laki-laki adalah anti kelemahan, anti-feminitas, kekerasan, dan juga prestasi.

Dari toxic masculinity tersebut, ini bisa berdampak pada tekanan psikologis laki-laki, di mana tekanan terhadap standar itu membuat mereka sulit untuk menjadi diri sendiri, di mana mereka diharapkan menjadi lelaki yang anti-kelemahan, tidak mudah cengeng, dan selalu menjadi kuat.

Dampak toxic masculinity pada kesehatan mental
Menurut mahasiswa dari Central Michigan University, ada rasa ironi ketika standar maskulinitas terjadi pada anak laki-laki. Salah satunya bertindak seolah tidak boleh lemah dan harus berpura-pura kuat di lingkungan sosialnya.

“Hal terlemah yang dapat Anda lakukan adalah dengan berpura-pura bahwa Anda tidak punya masalah,” ungkap mahasiswa tersebut tanpa menyebutkan namanya.

baca juga

Bahkan untuk perawatan layanan kesehatan mental, keterbukaan emosi pasien kepada psikolog merupakan hal yang sangat penting. Sebagaimana yang diungkap oleh Psikiater Anak, Remaja, dan Dewasa Akeem Marsh.

“Saya coba menjelaskan kepada pasien laki-laki saya, bahwa menangis itu hal yang normal, dan itu tidak apa-apa untuk sedih sebentar,” ungkapnya.

“Dan ini merupakan dasar yang diperlukan bagi kita, untuk menghilangkan stres dan mengekspresikan rasa sedih kita,” ungkap Akeem lebih lanjut.

Ketika laki-laki memilih memendam emosi karena takut dibilang lemah dan cengeng, menurut Akeem, ini bisa berdampak pada kesehatan mentalnya, salah satunya adalah dengan menyakiti diri sendiri.

“Ketika menekan emosi Anda, dan kemudian Anda melakukannya, itu akan memakan Anda serta menyakiti diri Anda sendiri,” kata Akeem.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Perempuan Masukkan Bantal ke Baju Malah Bikin Nangis, 8 Tahun Aku Menunggu Ya Allah

Perempuan Masukkan Bantal ke Baju Malah Bikin Nangis, 8 Tahun Aku Menunggu Ya Allah

Bali | Kamis, 14 Oktober 2021 | 10:51 WIB

Apa yang Dirasakan Laki-laki Saat Tidak Bisa Punya Anak?

Apa yang Dirasakan Laki-laki Saat Tidak Bisa Punya Anak?

Batam | Rabu, 13 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Selama Pandemi, Banyak Laki-laki Gunakan Mainan Seks Untuk Eksplorasi

Selama Pandemi, Banyak Laki-laki Gunakan Mainan Seks Untuk Eksplorasi

Lifestyle | Senin, 04 Oktober 2021 | 20:55 WIB

Terkini

Polda Jatim Tahan Tersangka Arisan MeAow, 6 Korban Rugi Rp 4,07 Miliar

Polda Jatim Tahan Tersangka Arisan MeAow, 6 Korban Rugi Rp 4,07 Miliar

News | Kamis, 05 November 2026 | 23:14 WIB

Cristiano Ronaldo Pensiun dengan Harta Rp22 Triliun, Tiap Tahun Kantongi Rp1 T

Cristiano Ronaldo Pensiun dengan Harta Rp22 Triliun, Tiap Tahun Kantongi Rp1 T

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 22:44 WIB

Dokumen Kependudukan Warga Tangerang Jadi Bungkus Gorengan

Dokumen Kependudukan Warga Tangerang Jadi Bungkus Gorengan

Banten | Kamis, 05 November 2026 | 22:38 WIB

Pengangguran di Jabar Turun Jadi 6,67 Persen, Kabupaten Bekasi Tertinggi

Pengangguran di Jabar Turun Jadi 6,67 Persen, Kabupaten Bekasi Tertinggi

Jabar | Kamis, 05 November 2026 | 22:34 WIB

Piala Asia 2027 Diundur, Erick Thohir Sebut Timnas Indonesia Justru Diuntungkan

Piala Asia 2027 Diundur, Erick Thohir Sebut Timnas Indonesia Justru Diuntungkan

Bola | Kamis, 05 November 2026 | 22:25 WIB

Solusi Pakan Sapi di Papua Barat, Pelepah Sawit Diolah Jadi Silase Tahan Lama

Solusi Pakan Sapi di Papua Barat, Pelepah Sawit Diolah Jadi Silase Tahan Lama

News | Kamis, 05 November 2026 | 22:20 WIB

Membaca Peluang AHY Gantikan Gibran Jadi Wapres, Seberapa Terbuka Jalannya?

Membaca Peluang AHY Gantikan Gibran Jadi Wapres, Seberapa Terbuka Jalannya?

News | Kamis, 05 November 2026 | 22:10 WIB

Belajar tetapi Dianggap Putus Sekolah, KPAI Soroti Nasib Anak Disabilitas di LKSA

Belajar tetapi Dianggap Putus Sekolah, KPAI Soroti Nasib Anak Disabilitas di LKSA

News | Kamis, 05 November 2026 | 22:02 WIB

Masuk Ancol Gratis Sampai 12 November, Simak Ketentuannya

Masuk Ancol Gratis Sampai 12 November, Simak Ketentuannya

News | Kamis, 05 November 2026 | 21:55 WIB

Soal Pajak, Hashim Pernah Bersengketa dengan Otoritas Jenewa

Soal Pajak, Hashim Pernah Bersengketa dengan Otoritas Jenewa

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 21:52 WIB

×