alexametrics

Nadiem Makarim Prihatin, Musik Tradisional Kurang Dinikmati Oleh Anak Muda

M. Reza Sulaiman
Nadiem Makarim Prihatin, Musik Tradisional Kurang Dinikmati Oleh Anak Muda
Christian Mara, seniman alat musik tradisional khas Dayak menunjukkan Sappe karyanya. (Suara.com/Eko Susanto)

Meski indah, musik tradisional dari berbagai daerah di Indonesia masih kurang digemari dan dinikmati oleh anak muda.

Suara.com - Meski indah, musik tradisional dari berbagai daerah di Indonesia masih kurang digemari dan dinikmati oleh anak muda.

Hal ini membuat Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim prihatin. Ia pun ingin mendorong agar musik tradisional dicintai oleh masyarakat luas.

“Terus terang saya selalu memikirkan bagaimana caranya musik laku dan dicintai masyarakat luas. Tapi lebih penting, bagaimana secara generik dapat dinikmati anak muda," ujar Nadiem pada pelaksanaan Festival Musik tradisional Indonesia Danau Toba yang diselenggarakan di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, dikutip dari ANTARA.

Nadiem mengaku khawatir musik ini bisa hilang jika para pemangku kepentingan tidak bisa bergerak bersama. Dia menambahkan perlu inovasi dalam upaya melestarikan musik tradisional.

Baca Juga: Nadiem Makarim Janji Hapus Kekerasan Seksual di Dunia Pendidikan, Bagaimana Caranya?

Alat Musik Tradisional Jawa Barat, Jentreng. [Disparbud.jabarprov.go.id]
Alat Musik Tradisional Jawa Barat, Jentreng. [Disparbud.jabarprov.go.id]

Dia menyebut musik tradisional yang didengarnya di festival musik itu tidak pernah saya dengar sebelumnya. Sangat cantik dan kental kesakralannya, namun relevan dengan zaman.

“Perpaduan musik tradisional dengan inovasi yang mana sesekali saya mendengar musik “hip hop”, sesekali musik elektronik. Luar biasa,” jelas dia.

Menteri Nadiem berharap kebudayaan dapat menyejahterakan masyarakat di kawasan Destinasi Super Prioritas tersebut.

Dalam kunjungan itu, Nadiem menginap di rumah maestro musik tradisional Batak yakni Martahan Sihotang. Martahan Sihotang merupakan penggiat budaya, bersama dengan adiknya Elvrida Sihotang, Martahan menggerakkan kegiatan-kegiatan kesenian seperti pelatihan tari Tor-Tor untuk anak-anak remaja, pembuatan kesenian kerajinan dari bambu untuk para ibu di desanya.

“Terharu, karena mendapatkan perhatian. Sudah tiga tahun saya meninggalkan istri dan anak di Jakarta untuk memajukan kebudayaan Toba. Komitmen saya ini ternyata diperhatikan Mas Menteri,” kata Martahan.

Baca Juga: Bobby Nasution Minta Menteri Nadiem Buka Blokir Guru Penggerak Kota Medan

Komentar