Psikolog Ungkap Serba-serbi Dunia Kerja dan Dilema Jadi Generasi Sandwich

Risna Halidi | Aflaha Rizal Bahtiar
Psikolog Ungkap Serba-serbi Dunia Kerja dan Dilema Jadi Generasi Sandwich
Ilustrasi. [Unsplash]

Perkembangan teknologi digital juga membuat masyarakat bisa melakukan beragam macam sekaligus salah satunya bekerja sambil berbelanja.

Suara.com - Masalah karir merupakan tema yang tak habis-habisnya dibahas oleh para pencari kerja maupun profesional yang berpengalaman. Apalagi pekerjaan bukan hanya tentang melakukan tugas tetapi juga mencari penghasilan, seperti gaji untuk menunjang hidup.

Tapi bekerja lebih dari sekadar gaji melainkan juga memiliki aspek lain seperti ambisi untuk meningkatkan kemampuan serta berharap bisa mendapat jabatan yang tinggi.

Omong-omong soal pekerjaan, ada perbedaan pekerjaan zaman dulu dan zaman sekarang. hal ini diungkap oleh Psikolog Mellissa Catalina saat berbicara dalam acara Webinar Career vs Family, How To Have A Healthy Work-Life Balance, Sabtu (6/11/2021).

"Bahkan orangtua kita, ketika memandang pekerjaan kita, tentu beda banget sama zaman mereka," ungkap Mellissa Catalina.

Baca Juga: 6 Cara Memuaskan Suami Secara Seksual, Wajib Diketahui Para Wanita

"Kita bekerja merupakan bagian dari hidup. Dan di zaman sekarang, semua pekerjaan bisa diakses lewat digital. Seperti mengirim email misalnya," lanjut Mellissa.

Perkembangan teknologi digital juga membuat masyarakat bisa melakukan beragam macam sekaligus salah satunya bekerja sambil berbelanja. Berbeda dengan zaman dulu, di mana belum ada yang namanya perkembangan digital termasuk perangkat handphone, sehingga tidak bisa ke mana-mana selain di kantor.

Dilema Jadi Sandwich Generation
Dalam acara yang sama Mellissa juga mengungkapkan fenomena lain yang banyak dialami oleh pekerja muda.

Fenomena tersebut adalah fenomena sandwich generation. Kondisi ini menggambarkan ketika anak harus ikut membantu membiayai orangtua yang telah memasuki masa pensiun. Bersamaan dengan itu, mereka juga dibebani untuk membiayai kebutuhan keluarga beserta adik-adiknya.

Meski membantu keluarga adalah hal yang wajar, tapi jika tidak ada kebutuhan diri sendiri seperti tabungan masa depan, itu membuat anak kewalahan dan tidak punya pegangan investasi.

Baca Juga: Bikin Menyayat Hati, Meski Kebanjiran Job di Indonesia, Ini Alasan Bunda Corla Tetap Pilih Bekerja di Jerman

Lebih parahnya, anak bisa saja dijadikan alat investasi oleh keluarganya, di mana anak dituntut untuk membahagiakan orangtua lewat materi, dengan alibi ‘berbakti kepada orangtua’.