Ingin Memberi Semangat Kepada Orang Lain? Jangan Ragu Memberi Pujian Tulus Kepadanya

Vania Rossa | Aflaha Rizal Bahtiar
Ingin Memberi Semangat Kepada Orang Lain? Jangan Ragu Memberi Pujian Tulus Kepadanya
Ilustrasi bahagia, menerima pujian. [Unsplash]

Pujian yang tulus dapat meningkatkan kinerja seseorang, lho.

Suara.com - Jangan anggap sepele pujian. Meski banyak yang menganggapnya sebagai basa-basi, pujian ternyata memberi manfaat luar biasa dalam kehidupan kita.

Penelitian menunjukkan bahwa menerima pujian dapat meningkatkan kinerja, interaksi sosial, kepositifan dalam hubungan, dan meningkatkan kebahagiaan secara umum.

"Pujian dapat mengangkat suasana hati, meningkatkan keterlibatan dengan tugas, meningkatkan pembelajaran dan meningkatkan ketekunan," demikian dikatakan Profesor Nick Haslam dari School of Psychological Sciences, University of Melbourne, seperti dilansir dari HuffPost Australia.

"Ada beberapa bukti penelitian bahwa orang yang menerima pujian atas kinerja mereka cenderung meningkatkan performanya dibandingkan orang yang tidak menerima pujian. Dan Anda tidak perlu studi penelitian untuk mengetahui bahwa menerima pujian dapat meningkatkan suasana hati," katanya lagi.

Baca Juga: Berikan Pujian Kepada Presiden RI Joko Widodo, Ketum Gerindra Prabowo Subianto Sebutkan Bukan Menjilat sampai Angkat Peribahasa Musuh dalam Selimut

Memberi pujian bisa dibilang lebih baik daripada menerima pujian, dan ini diibaratkan seperti halnya memberi hadiah atau menyumbang amal, yang memiliki manfaat bagi si pemberi.

"Dengan memberikan pujian, Anda dapat membuat interaksi menjadi lebih menyenangkan, memunculkan kehangatan timbal balik dari orang lain, dan menciptakan kesan yang baik di mata mereka," kata Profesor Nick.

Tapi, pastikan pujian yang diterima adalah pujian yang tulus dari hati, ya. Karena, menurut peneliti, pujian yang palsu cenderung memiliki efek yang berlawanan dengan pujian yang tulus.

"Pujian palsu cenderung memiliki efek yang berlawanan dengan yang tulus. Orang yang menerimanya akan sering merasa bahwa mereka tidak tulus dan tidak bermaksud baik, dan itu merusak efek positif apa pun yang mungkin mereka rasakan tentang dipuji," kata sang profesor.

"Meski begitu, yang penting bukanlah apakah pujian itu benar-benar palsu atau asli, tetapi apakah penerimanya mempercayainya. Sangat mungkin bagi seseorang untuk menganggap pujian sarkastik sebagai pujian yang tulus, atau tidak percaya dan mengabaikan pujian yang menyentuh hati," tegasnya.

Baca Juga: Potret Cantik Titi Kamal Rambut Pendek, Banjir Pujian Sesama Artis