facebook

Perubahan Iklim Jadi Ancaman Risiko Global dan Tantangan Baru Dunia Kerja di Indonesia

Risna Halidi
Perubahan Iklim Jadi Ancaman Risiko Global dan Tantangan Baru Dunia Kerja di Indonesia
Ilustrasi perubahan iklim. [Shutterstock]

Di sisi lain, Managing Director WEF Saadia Zahidi mengatakan bagaimana disrupsi kesehatan dan ekonomi diprediksi akan memperburuk keretakan sosial.

Suara.com - Ancaman perubahan iklim telah menjadi kekhawatiran global. Menurut Laporan Risiko Global 2022, masalah iklim masuk sebagai risiko jangka panjang teratas dunia.

Sementara perpecahan sosial, krisis penghidupan, dan perburukan kesehatan mental masuk dalam kekhawatiran jangka pendek global yang paling dominan.

Hal itu juga yang menjadi sorotan Presiden Direktur sekaligus CEO Marsh Indonesia, Douglas Ure. Kata Douglas, risiko global tersebut sangat relevan dengan keadaan di Indonesia, utamanya yang terkait dengan masalah iklim.

"Dalam beberapa hal, sebagian besar risiko yang disorot dalam laporan tersebut sangat relevan untuk Indonesia."

Baca Juga: Benarkah Musik Metal Baik Untuk Kesehatan Mental? Begini Penjelasannya

Seorang aktivis menunjukkan poster saat melakukan aksi protes terkait perubahan iklim di Kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Minggu (26/9/2021). [Suara.com/Alfian Winanto]
Seorang aktivis menunjukkan poster saat melakukan aksi protes terkait perubahan iklim di Kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Minggu (26/9/2021). [Suara.com/Alfian Winanto]

"Jika mempertimbangkan beberapa pendapat dalam laporan khusus untuk Indonesia dan Asia Selatan, maka peristiwa perubahan iklim dan cuaca ekstrem menjadi agenda utama untuk Indonesia," ungkapnya saat dihubungi oleh Suara.com beberapa waktu lalu.

Namun tambah Douglas, ancaman pandemi yang berkelanjutan, risiko ekonomi, krisis dunia maya dan utang juga harus menjadi perhatian utama Indonesia.

Lebih lanjut, Douglas menyebut bahwa saat ini perusahaan dan pemerintahan di banyak negara telah menerima dan menyadari pentingnya aksi nyata untuk masalah perubahan iklim.

"Dalam banyak kasus, kami mengurangi meyakinkan klien tentang apa yang perlu dilakukan, tetapi bermitra dengan mereka tentang bagaimana kami dapat membantu mereka mencapai tujuan lingkungan, sosial, dan tata kelola untuk mereka," tambah Douglas.

Laporan Risiko Global 2022 sendiri disusun dengan dukungan Dewan Penasihat Risiko Global dari Forum Ekonomi Dunia atau WEF.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca 24 Januari 2022, Sumsel Berawan Hari Ini

Di sisi lain, Managing Director WEF Saadia Zahidi mengatakan bagaimana disrupsi kesehatan dan ekonomi diprediksi akan memperburuk keretakan sosial.

Aktivis dari berbagai organisasi lingkungan berjalan menuju Taman Aspirasi Monas saat aksi terkait krisis iklim di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (20/9). [Suara.com/Arya Manggala]
Aktivis dari berbagai organisasi lingkungan berjalan menuju Taman Aspirasi Monas saat aksi terkait krisis iklim di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (20/9). [Suara.com/Arya Manggala]

"Kondisi ini menciptakan ketegangan di mana kolaborasi di antara masyarakat dan komunitas internasional akan menjadi fundamental untuk memastikan pemulihan global yang lebih merata dan cepat," tambahnya dikutip Suara.com siaran pers, Selasa (25/1/2022).

Sebagai perusahaan penyedia jasa profesional yang berkantor pusat di New York, Marsh juga melihat adanya konsekuensi bagi perusahaan yang dianggap tidak proaktif menanggapi isu lingkungan dan sosial yang berkembang di masyarakat.

"Kami melihat perusahaan yang proaktif dalam isu lingkungan dan sosial sebenarnya lebih sukses dan kompetitif. Hal ini bukan tidak terduga, orang ingin bekerja untuk perusahaan yang bertanggung jawab," tambah Douglas.

Jika perusahaan dianggap memiliki aturan yang abai dengan risiko-risiko global, maka besar kemungkinan perusahaan tersebut akan mengalami kerugian.

"Jika Anda mengabaikan apa yang jelas merupakan eksposur risiko yang signifikan, maka kemungkinan besar Anda akan berada pada kerugian. Kami juga cenderung melihat lebih banyak masalah reputasi serta peningkatan risiko masalah dari regulator," tutupnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar