Suara.com - Momentum bulan Ramadhan yang penuh berkah tidak boleh disia-siakan. Sebab, puasa Ramadhan merupakan ibadah yang harus dijalani umat Muslim dengan kesabaran yang ekstra.
Untuk menjalani puasa, fisik yang kuat serta jiwa yang bersih menjadi modal penting dalam menjalani ibadan di bulan penuh suci ini.
Saat Ramadhan, umat Muslim diwajibkan untuk menahan lapar serta dahaga. Tak hanya dua hal itu, saat berpuasa juga perlu menghindari dari hal yang berbau maksiat.
Sebagaimana dilansir dari NU Online, Nabi Muhammad SAW menegaskan, bahwa puasa menjadi tameng sekaligus benteng pertahanan dari segala perbuatan buruk, bahkan hingga panasnya api neraka.
Imam Ahmad dan Imam an-Nasai meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, di mana Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa puasa disebut sebagai tameng dari api neraka.
Imam Ahmad bin Hajar al-Haitami, atau yang dikenal Imam Ibnu Hajar menulis kitabnya yang berjudul Ithafu Ahlil Islam bi Khususiyyatis Shiyam, bahwa junnatun artinya perlindungan atau penutup.
Maksud dari kitab tersebut, bahwa puasa disebut sebagai pelindung, penutup, atau benteng bagi orang yang berpuasa dari api neraka.
Sementara itu, Al-Qadli ‘Iyadl yang mengutip dari Imam Ibnu Hajar mengatakan, puasa menjadi benteng dari perbuatan-perbuatan yang mengandung dosa.
Selain itu, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam An-Nasai, dan Imam Ibnu Majah dari Utsman bin Abi Al-‘Ash mengatakan,
"Puasa merupakan benteng dari neraka, seperti benteng salah satu dari kalian dari perang, selagi benteng tersebut tidak dibakar dengan kebohongan dan ghibah.”
Hadits di atas menunjukkan bahwa puasa memiliki dua syarat bagi yang menjalaninya, yakni tidak boleh melakukan kebohongan dan juga ghibah. Sebab, dua hal ini dapat merusak benteng dari puasa tersebut.