facebook

Hoaks Banyak Beredar, Ini Pentingnya Saring Sebelum Sharing di Media Sosial

Bimo Aria Fundrika
Hoaks Banyak Beredar, Ini Pentingnya Saring Sebelum Sharing di Media Sosial
ilustrasi hoaks, ilustrasi hoax, UU ITE. [Envato Elements]

Tidak jarang informasi yang disebarkan justru ialah berita bohong atau hoaks.

Suara.com - Kemajuan teknologi seolah membuka arus deras informasi. Sehingga publik dibanjiri oleh berbagai informasi dari dunia digital.

Sayangnya, informasi yang beredar tidak selalu akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.Tidak jarang informasi yang disebarkan justru ialah berita bohong atau hoaks.

“Itulah sifat manusia, senangnya yang kontroversial. Pertanyaannya, ketika masuk dunia digital, prinsip tersebut juga masuk. Sehingga ketika orang membuat konten baik maka tidak akan laku, sebaliknya yang kurang baik akan laku,” kata Ketua Prodi Ilmu Komunikasi SGU, ASPIKOM, MAFINDO, Loina Lalolo Krina Perangin-angin saat webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat wilayah Magetan, Jawa Timur, baru-baru ini.

Konten atau Informasi, menurut dia, menjadi sesuatu yang ditransaksikan di dunia digital. Setiap orang masih mencari posisi ketika pertama kali membuat konten. Tak heran konten kontroversial menjadi pilihan untuk mencari follower.
Bertambahnya jumlah pengikut mendorong seseorang semakin beretika pada media digital. Sehingga lebih sadar dan bertanggung jawab ketika membuat menyebarkan informasi. “Kemampuan berpikir kritis berfungsi untuk membantu kita memilih informasi yang ada,” ujar Loina.

Baca Juga: Di Facebook, Pengguna Bisa Pamerkan Koleksi NFT-nya

Pengguna internet di Indonesia pada tahun 2021 mengalami peningkatan, We Are Social mencatat kini pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta pengguna, di mana sebanyak 170 juta penggunanya menggunakan media sosial. Dapat dikatakan pengguna internet mencapai 61.8% dari total populasi Indonesia.

Menurut Survei Literasi Digital di Indonesia pada tahun 2021, Indeks atau skor Literasi Digital di Indonesia berada pada angka 3,49 dari skala 1-5. Skor tersebut menunjukkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam kategori Sedang.

Sebagai respons untuk menanggapi perkembangan TIK ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi melakukan kolaborasi dan mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital. Program ini didasarkan pada empat pilar utama literasi digital yakni Kemampuan Digital, Etika Digital, Budaya Digital, dan Keamanan Digital. Melalui program ini, 50 juta masyarakat ditargetkan akan mendapat literasi digital pada tahun 2024.

Webinar #MakinCakapDigital 2022 untuk kelompok komunitas masyarakat di wilayah Magetan, Jawa Timur merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siber Kreasi. Kali ini hadir pembicara-pembicara yang ahli dibidangnya untuk berbagi terkait budaya digital antara lain Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Swiss German University, Loina Lalolo Krina Perangin-angin. Kemudian Relawan TIK Bojonegoro, Sholikhin, S.Kom, serta Public figure, Fanny Fabriana.

Baca Juga: Ngakak! Emak-emak Unduh Ratusan Aplikasi, Efek Baru Punya Smartphone Android

Komentar