Saling Dorong Bikin Kacau, Saksi Mata Tragedi Itaewon Ungkap Detik-detik Massa Tumpang Tindih Hingga Meninggal

M. Reza Sulaiman, Dinda Rachmawati

Senin, 31 Oktober 2022 | 21:20 WIB
Saling Dorong Bikin Kacau, Saksi Mata Tragedi Itaewon Ungkap Detik-detik Massa Tumpang Tindih Hingga Meninggal
Tim penyelamat bekerja di lokasi di mana puluhan orang terluka akibat terinjak-injak saat festival Halloween. [Antara]

Suara.com - Saksi mata tragedi Itaewon mengungkap detik-detik massa saling dorong sebelum akhirnya massa tumpang tindih dan menimbulkan korban meninggal dunia. Apa ceritanya?

Pada 29 Oktober 2022, kerumunan massa di gang sempit di sebelah landmark Hotel Hamilton menyebabkan kematian sedikitnya 153 orang. Gelombang kerumunan adalah penyebab di mana banyak orang meninggal dunia. Ini adalah kondisi di mana ketika sejumlah besar orang mencoba pindah ke ruang yang relatif kecil sekaligus, persis seperti yang terjadi di Itaewon.

Dilansir Koreaboo, menurut para penyintas dan saksi, alasan terjadinya lonjakan massa adalah "dorongan paksa", terlebih kondisi gang kecil itu cenderung miring.

Orang-orang melihat karangan bunga yang ditaruh sebagai penghormatan kepada para korban dalam tragedi Itaewon di luar stasiun kereta bawah tanah Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Minggu (30/10/2022). [Anthony WALLACE / AFP]
Orang-orang melihat karangan bunga yang ditaruh sebagai penghormatan kepada para korban dalam tragedi Itaewon di luar stasiun kereta bawah tanah Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Minggu (30/10/2022). [Anthony WALLACE / AFP]

Kabarnya, orang-orang yang berada di puncak gang mulai mendorong ke bawah, tidak menyadari bahwa mereka yang berada di bawah akhirnya berjatuhan. YouTuber Seon Ye Jung mengenang pengalamannya terjebak di tengah keramaian dan diselamatkan oleh temannya.

"Di belakang saya, orang-orang meneriakkan hal-hal seperti 'Dorong! Kita lebih kuat! Kita bisa memenangkan ini, haha!’ dan mulai mendorong. Beberapa dari kami mencoba membuat orang banyak mengikuti lalu lintas kanan lagi, tetapi tidak ada gunanya," ujarnya.

"Sejujurnya saya didorong dan didorong melawan keinginan saya. Kemudian, tiba-tiba, kekacauan terjadi dan semua orang mulai saling dorong dengan agresif—seperti tarik tambang. Tidak butuh waktu lama sebelum saya mulai merasakan kekuatan orang-orang yang mendorong. Penglihatan mulai memudar," ungkap dia lagi.

"Teman saya, yang ada di sana bersama saya, lebih kuat dari saya. Jadi mereka berpegangan pada saya dan membantu saya menahan kekuatan. Seandainya saya tidak bersama teman saya, saya akan benar-benar jatuh," lanjut YouTuber tersebut.

Seorang pria menuangkan segelas minuman beralkohol sebagai penghormatan kepada para korban dalam tragedi Itaewon di luar stasiun kereta bawah tanah Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Minggu (30/10/2022). [Anthony WALLACE / AFP]
Seorang pria menuangkan segelas minuman beralkohol sebagai penghormatan kepada para korban dalam tragedi Itaewon di luar stasiun kereta bawah tanah Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Minggu (30/10/2022). [Anthony WALLACE / AFP]

Tapi apa yang bisa menyebabkan 153 orang meninggal setelah jatuh di sebuah gang? Dalam kasus seperti itu, hampir tidak mungkin bagi mereka yang jatuh untuk melarikan diri dan akhirnya mereka terinjak-injak dengan yang lain.

Padahal, menurut para ahli, penyebab utama kematian dalam keramaian sebenarnya adalah mati lemas. Menurut Steve Allen, seorang konsultan di Crowd Safety, kesalahan yang terjadi adalah ketika kerumunan runtuh dan orang-orang di belakang mereka naik ke atas orang-orang di depan mereka yang sudah jatuh horizontal.

baca juga

"Orang-orang ditekan bersama-sama begitu erat sehingga menjadi tidak mungkin untuk bernapas. Bahkan, tekanan yang diberikan dikabarkan bisa membengkokkan baja. Dalam beberapa kasus, orang pingsan dan bahkan mati saat masih berdiri, tubuh mereka ditahan oleh kerumunan orang," pungkasnya.

Ia juga berbicara pada kasus lonjakan kerumunan tragis yang terjadi di konser Astroworld pada tahun 2021, G. Keith Still, profesor ilmu kerumunan di University of Suffolk di Inggris, menjelaskan apa yang terjadi ketika seseorang secara fatal terjebak dalam lonjakan kerumunan.

"Dibutuhkan 30 detik sebelum Anda kehilangan kesadaran, dan sekitar enam menit, Anda mengalami asfiksia kompresif atau restriktif. Itu umumnya penyebab kematian yang dikaitkan - tidak hancur, tetapi mati lemas," jelas G. Keith Still.

Selain tak sengaja menginjak-injak, para ahli telah menyimpulkan bahwa penyebab utama kematian dalam lonjakan massa adalah sesak napas, yaitu ketika tubuh kekurangan oksigen. Di lokasi tragedi Itaewon, orang menderita mati lemas dan serangan jantung, yang pada akhirnya menyebabkan sebagian besar korban.

Ada banyak elemen yang akhirnya menambah hasil tragis di Itaewon, termasuk pencabutan mandat jarak sosial dan kurangnya kontrol massa. Saat pihak berwenang menyelidiki insiden tersebut, Korea Selatan berharap untuk melihat langkah-langkah keamanan yang lebih kuat diterapkan ke depan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dari Perawatan Kulit hingga Wellness, Korea Selatan Perkenalkan Wisata Kesehatan di Jakarta

Dari Perawatan Kulit hingga Wellness, Korea Selatan Perkenalkan Wisata Kesehatan di Jakarta

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:14 WIB

Babymonster Ketagihan Ngomong Josjis saat Konser di Jakarta, Sampai Bilang Sayange ke MONSTIEZ

Babymonster Ketagihan Ngomong Josjis saat Konser di Jakarta, Sampai Bilang Sayange ke MONSTIEZ

Entertainment | Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:43 WIB

Gong Yoo Cerita ke Fans Jakarta, Bahagia Main LEGO Berjam-jam Sambil Dengar Musik

Gong Yoo Cerita ke Fans Jakarta, Bahagia Main LEGO Berjam-jam Sambil Dengar Musik

Entertainment | Senin, 19 Oktober 2026 | 10:09 WIB

Rahasia Kelam yang Terkubur di Balik Misteri Musim Panas di Duwang-ri

Rahasia Kelam yang Terkubur di Balik Misteri Musim Panas di Duwang-ri

Your Say | Senin, 19 Oktober 2026 | 08:30 WIB

BABYMONSTER Tampil Totalitas di Konser Jakarta, dari Aksi Solo hingga Encore Spektakuler

BABYMONSTER Tampil Totalitas di Konser Jakarta, dari Aksi Solo hingga Encore Spektakuler

Entertainment | Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:30 WIB

Babymonster Konser di Jakarta Hari Ini, Intip Rundown Lengkapnya

Babymonster Konser di Jakarta Hari Ini, Intip Rundown Lengkapnya

Entertainment | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:28 WIB

Siap-Siap! Babymonster Bakal Konser di Indonesia Arena Akhir Pekan Ini

Siap-Siap! Babymonster Bakal Konser di Indonesia Arena Akhir Pekan Ini

Entertainment | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:00 WIB

Menelusuri Jejak Patriarki di Korea dalam Novel Kim Jiyeong Born in 1982

Menelusuri Jejak Patriarki di Korea dalam Novel Kim Jiyeong Born in 1982

Your Say | Senin, 12 Oktober 2026 | 17:15 WIB

Perusahaan Rokok Asal Korsel Bangun Pabrik Baru di RI, Kapasitas Tembus 35 Miliar Batang

Perusahaan Rokok Asal Korsel Bangun Pabrik Baru di RI, Kapasitas Tembus 35 Miliar Batang

Bisnis | Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:33 WIB

Awas Ketagihan! 5 Street Food Legendaris Korea yang Paling Dicari Saat Musim Gugur

Awas Ketagihan! 5 Street Food Legendaris Korea yang Paling Dicari Saat Musim Gugur

Your Say | Rabu, 30 September 2026 | 17:46 WIB

Terkini

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Jabar | Minggu, 01 November 2026 | 22:44 WIB

Truk Molen Tabrak 12 Orang di Halte Bekasi, Enam Tewas dan Kelayakan Kendaraan Disorot

Truk Molen Tabrak 12 Orang di Halte Bekasi, Enam Tewas dan Kelayakan Kendaraan Disorot

Jakarta | Minggu, 01 November 2026 | 22:31 WIB

Rumor MSCI Downgrade IHSG Panaskan Hubungan RI-Singapura

Rumor MSCI Downgrade IHSG Panaskan Hubungan RI-Singapura

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 22:20 WIB

Target Harga Saham BBCA di Tengah Koreksi Ekstrem

Target Harga Saham BBCA di Tengah Koreksi Ekstrem

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 22:11 WIB

Kepung Lokasi Balap Liar KM 77 Cipali, Polsek Campaka Amankan 35 Remaja dan 24 Motor

Kepung Lokasi Balap Liar KM 77 Cipali, Polsek Campaka Amankan 35 Remaja dan 24 Motor

Jabar | Minggu, 01 November 2026 | 22:08 WIB

Patuhi Danantara, PTBA Resmi Bubarkan Anak Usaha

Patuhi Danantara, PTBA Resmi Bubarkan Anak Usaha

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 22:05 WIB

Aparat Bersenjata Geledah Ponpes Putri saat Santri Tidur, Komnas HAM Turun Tangan

Aparat Bersenjata Geledah Ponpes Putri saat Santri Tidur, Komnas HAM Turun Tangan

News | Minggu, 01 November 2026 | 22:00 WIB

Waspada! Ada Dokter Gadungan Rawat 169 Pasien Kanker, Ngaku Tak Bersalah dan Siapkan Vaksin Kanker

Waspada! Ada Dokter Gadungan Rawat 169 Pasien Kanker, Ngaku Tak Bersalah dan Siapkan Vaksin Kanker

News | Minggu, 01 November 2026 | 22:00 WIB

Ika Wonda Hattrick, MilkLife Strikers Buka Singa Cup 2026 dengan Kemenangan Telak

Ika Wonda Hattrick, MilkLife Strikers Buka Singa Cup 2026 dengan Kemenangan Telak

Surakarta | Minggu, 01 November 2026 | 21:56 WIB

Pendampingan Tim Patriot Brawijaya Bikin Warga Klamono-Segun Mandiri

Pendampingan Tim Patriot Brawijaya Bikin Warga Klamono-Segun Mandiri

Jatim | Minggu, 01 November 2026 | 21:47 WIB

×