Sedang Marah atau Sedih Tak Tertahankan, Benarkah Bersyukur Bisa Jadi Solusinya?

Jum'at, 04 November 2022 | 10:52 WIB
Sedang Marah atau Sedih Tak Tertahankan, Benarkah Bersyukur Bisa Jadi Solusinya?
Ilustrasi marah, emosi negatif. (Freepik.com/jcomp)

Suara.com - Saat sedang hadapi masalah hidup, kerap kali ada saja orang lain yang menyarankan untuk bersyukur. Benarkah manfaat bersyurkur sedahsyat itu?

Terapis kesehatan mental Askarina Daniswari menjelaskan bahwa bersyukur sebenarnya menjadi lebih sulit dilakukan saat sedang merasakan emosi negatif, seperti marah, kesal, dan kecewa.

"Karena manusia memiliki emosi, dan emosi itu termasuk marah, sedih, kesal. Saat kita sedang kesal, ya jangan bersyukur. Karena ada namanya grateful by passing, saat kita gak mau bersyukur pada saat itu ya jangan dipaksa," jelas Askarina saat media gathering bersama ERHA skincare di Jakarta, Rabu (2/11/2022).

Ilustrasi orang yang bersyukur (Freepik.com)
Ilustrasi orang yang bersyukur (Freepik.com)

Menurut Askarina, manusia lebih penting untuk menerapkan keseimbangan emosi. Cara itu untuk membuat tubuh sadar akan emosi yang dirasakan dan bisa menerimanya.

Sebab selama hidup, tentu tidak mungkin seseorang akan selalu merasakan bahagia tanpa tantangan. Atau pun selalu merasa sedih dan marah.

"Jadi namanya emosi seimbang itu memang kemampuan seseorang untuk mengatur dan menjaga emosi yang terjadi dalam diri. Kalau marah sadar sedang marah, bahagia pun sadar. Karena bahagia pun gak boleh berlebihan. Kalau berlebihan terus besoknya sedih, nanti jadi menyalahkan diri sendiri," tuturnya.

Mampu menyeimbangkan emosi, menurut Askarina, juga jadi tanda bahwa kondisi mental sudah sehat. Oleh sebab itu, ia menegaskan bahwa mental yang sehat bukan berarti seseorang tidak boleh merasa marah, kesal, kecewa hingga sedih.

Tetapi justru menyadari emosi apa pun yang sedang dirasakan. Serta mengerti batas untuk mengekspresikan emosi tersebut. Sehingga diri tidak akan merasakan takut terhadap hal negatif apa pun yang akan terjadi.

Bukan hanya dalam meluapkan emosi negatif, tapi saat sedang bahagia pun sebaiknya tidak diekspresikan secara berlebihan.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Ungkap Perempuan Sunda Terletak pada Hatinya: Sabar dan Pandai Bersyukur, Jangankan Laki-Laki Baik, Bandel juga Bisa Diredam

"Emosi yang sehat itu kita jadi non judgement. Kalau kita selalu judgement, selalu merasa diri kita yang paling benar, itu ada masalah di emosi," kata Askarina.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI