Suara.com - Jessica Iskandar mengaku tengah kesulitan membayar cicilan KPR rumah mewahnya, buntut kasus penipuan bisnis rental mobil yang kini sedang dialaminya.
Hal tersebut bahkan membuat Jessica Iskandar ini berencana untuk menjual dua rumahnya di Jakarta karena merasa sudah tak sanggup lagi untuk membayarnya. Cicilan itu sudah menunggak 3 bulan karena saldo tabungannya tak bisa autodebet.
Di saat Jessica Iskanda tengah mengalami kesulitan, peran sang suami Vincent Verhaag pun di pertanyakan. Mengapa lelaki asal Bali itu tak membantu dan meringankan beban hutang sang istri?

Menjawab hal tersebut, Jessica Iskandar menegaskan cicilan KPR yang ditanggung sudah ada sejak sebelum dirinya mengenal Vincent Verhaag. Karena itulah, dirinya tak ingin membebani ayah dari anak-anaknya tersebut.
"Ini kan permasalahan memang terjadi sebelum aku kenal, menikah (dengan Vincent). Dari kredit, aku sudah mempersiapkan, selama 10 tahun aku udah punya uang cicilan, salahnya aku berusaha muterin uangnya, tapi ternyata kena musibah," jelas Jessica Iskandar.
Lantas sebenarnya, apa yang harus dilakukan suami, saat tahu istrinya tengah memiliki hutang? Benarkah langkah Jessica Iskandar?
1. Tergantung Saat Mereka Mengajukan Hutang
Apakah suami bertanggung jawab untuk membayar hutang pasangan sebenarnya tergantung pada bagaimana saat mereka mengajukannya. Jika mereka mengajukan hutang ini saat sudah bersama, suami istri umumnya bertanggung jawab atas segala kewajiban yang terkait dengan pengajuan hutang tersebut.
Tapi, jika mereka mengajukan secara terpisah atau jika hutang itu berasal dari sebelum mereka menikah, biasanya istri atau suami tidak bertanggung jawab atas hutang pasangan mereka.
2. Mengatasi Hutang Secara Individu Bukanlah Suatu Masalah
Mungkin sebagai pasangan mereka telah mendiskusikan hutang dan memutuskan rencana untuk mengatasinya secara individu. Dalam hal ini, berpegang pada strategi tersebut sama sekali tidak masalah.
Ini merupakan kesepakatan yang solid di tempat yang nyaman dan memenuhi kebutuhan satu sama lain. Ini bisa menjadi cara yang sehat untuk mengatasi utang.
3. Dana Darurat Terbatas
Pasangan yang tidak mau ikut membayar hutang pasangan mereka mungkin belum cukup untuk membangun dana darurat, tabungan yang cukup untuk menutupi pengeluaran tiga hingga enam bulan.
Mereka mungkin ragu untuk melunasi hutang pasangan karena hal ini. Misalnya, mereka masing-masing dapat memutuskan bahwa salah satu dari mereka akan fokus pada membangun tabungan sementara yang lain berfokus pada hutang luar, seperti dari kartu kredit atau pinjaman pribadi. Kuncinya, sekali lagi, adalah mendiskusikan rencana dengan pasangan dan kemudian menaatinya.
4. Kemandirian Finansial Itu Penting
Mungkin mereka benar-benar menikmati memiliki rekening bank yang terpisah, atau hanya menyukai kebebasan yang datang dari memiliki sejumlah uang setiap bulan untuk dibelanjakan atau ditabung sesuka mereka. Jika demikian, preferensi ini tetaplah menjadi pilihan sehat.
5. Pilihan Membantu Bayar Hutang Pasang Bisa Membuat Hubungan Tambah Dekat
Namun, berbicara tentang uang, seperti dilansir Lending Tree, membantu melakukan pembayaran utang pasangan sebenarnya bisa membuat mereka berdua lebih dekat.
"Penelitian menunjukkan bahwa berbicara tentang uang meningkatkan keintiman dalam suatu hubungan di luar uang,” Tara Unverzagt, seorang terapis keuangan bersertifikat, mengatakan kepada LendingTree.
"Ini tidak nyaman dan bahkan mungkin memalukan pada awalnya, tetapi orang-orang dengan cepat melupakannya," jelas dia.
6. Bantu Hilangkan Stres
Bagaimana setiap orang dalam pasangan berurusan dengan hutang juga dapat memengaruhi hubungan mereka. Misalnya, jika ada hutang tertentu yang menyebabkan pasangan stres, mungkin masuk akal bagi pasangan yang lain untuk membantu mereka melunasinya. Menghilangkan stres itu dapat memiliki efek yang tidak berwujud, tetapi positif, pada kehidupan mereka sehari-hari.