Suara.com - Pola asuh artis kepada anaknya memang sering jadi sorotan netizen di media sosial. Termasuk Ria Ricis juga tak luput dari cibiran netizen yang sibuk mengomentari cara YouTuber 27 tahun tersebut dalam mengasuh anaknya baby Moana.
Kali ini, Ria Ricis dicibir karena dinilai memaksa baby Moana yang baru berusia 7 bulan untuk belajar berjalan. Cibiran itu disampaikan melalui DM di instagram.
"Anak baru tujuh bulan dipaksa ditateh. Biarin anak tersiksa. Belum siap punya anak ya gini. Heran buru-buru banget," tulis seorang warganet melalui DM yang dibagikan Ria Ricis melalui Instagram Story, dikutip Jumat (3/3/2023).
Menjawab kritik warganet tersebut, Ria Ricis menjawabnya dengan singkat, padat, dan jelas.
![Ria Ricis dan Baby Moana [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/03/02/16817-ria-ricis-dan-baby-moana.jpg)
"Moana anak saya," kata Ria Ricis tegas.
"Gitu aja jawabannya dah," tambahnya dengan ukuran tulisan yang lebih kecil.
Berdiri dan berjalan memang termasuk bagian dari tahapan proses perkembangan seorang anak. Apabila anak tidak memiliki masalah, baik secara kesehatan, faktor lingkungan, maupun gangguan aktifitasnya, maka anak tidak memerlukan latihan khusus untuk dapat berdiri dan berjalan.
Kemampuan berdiri dan berjalan juga menjadi proses alamiah yang seharusnya terjadi pada semua anak. Tetapi, usia berapa anak bisa berdiri dan berjalan bisa berbeda tiap anak.
Dikutip dari situs Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada tiga faktor yang mempengaruhi proses berdiri dan berjalan seorang anak, yaitu:
Faktor Anak
Faktor dari dalam diri anak yang mempengaruhi proses berdiri dan berjalan antara lain:
1. Keinginan dari dalam diri untuk bergerak
Keinginan dari dalam diri untuk bergerak, harus dimiliki seorang anak untuk dapat berdiri dan berjalan. Keinginan ini harus didukung oleh nutrisi yang cukup, kemampuan sensoris dan kognitif yang baik, bagian tubuh bebas dari rasa nyeri dan kondisi jantung dan paru yang sehat.
2. Persepsi
Selain keinginan dari dalam diri, seorang anak memerlukan persepsi yang baik untuk dapat berdiri dan berjalan. Misalnya persepsi terhadap gerak, arah, jarak, tempo, kecepatan, dan ruang.
3. Pola gerakan yang baik
Proses berdiri dan berjalan yang baik membutuhkan pola gerakan yang tepat. Untuk dapat berdiri tumit kaki menumpu, lutut menekuk, panggul dan sumbu tubuh condong ke depan. Sedangkan untuk berjalan memerlukan, pola gerakan yang terdiri dari placing (menempatkan dan menumpukan kaki pada lantai) dan stepping (melangkahkan kaki). Stepping dan placing memerlukan koordinasi gerakan yang baik antara sisi tubuh kiri dan kanan.
4. Tidak ada lagi refleks gerakan primitif.
5. Tonus otot optimal (normotoni)
6. Sendi dapat digerakkan sesuai dengan batasan yang normal
7. Memiliki kekuatan otot yang baik, terutama otot sumbu tubuh, panggul, lutut, dan tumit
8. Memiliki keseimbangan yang baik (keseimbangan depan - belakang, keseimbangan atas -bawah, keseimbangan samping kanan - kiri
Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang mendukung proses berdiri dan berjalan adalah yang memberikan peluang anak untuk berdiri dan berjalan sehingga faktor ini dipengaruhi oleh pola asuh. Kondisi lingkungan yang mendorong seorang anak untuk berdiri dan berjalan, misalnya meletakkan mainan pada posisi yang membuat seorang anak berdiri atau berjalan untuk mendapatkan mainan tersebut serta mmebuat lingkungan seaman mungkin sehingga anak tidak terjatuh, terbentur, terpeleset yang membuat anak menjadi trauma.
Faktor Aktivitas
Anak didorong untuk beraktivitas sesuai dengan usia perkembangan anak yaitu sekitar usia 9 bulan untuk berdiri dan sekitar usia 12 bulan untuk berjalan. Jika pada usia tersebut anak terlalu banyak digendong atau duduk maka tingkat perkembangan anak menjadi seperti anak berusia 6-7 bulan.