Bahaya Puasa Intermiten Bagi Remaja, Berisiko Ganggu Tumbuh Kembang!

Riki Chandra Suara.Com
Rabu, 19 Februari 2025 | 08:20 WIB
Bahaya Puasa Intermiten Bagi Remaja, Berisiko Ganggu Tumbuh Kembang!
Ilustrasi diet. (Pexels.com/SHVETS Production)

Suara.com - Pola diet puasa intermiten semakin populer sebagai cara menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan metabolisme. Namun, peneliti mengingatkan bahwa pola diet ini mungkin berisiko bagi remaja.

Hasil penelitian terbaru, puasa intermiten dapat memengaruhi tumbuh kembang remaja, terutama dalam hal produksi insulin yang krusial untuk kesehatan jangka panjang.

Pola diet puasa intermiten melibatkan pergantian antara periode makan dan puasa, yang telah terbukti bermanfaat bagi kesehatan kardiovaskular, penurunan berat badan, dan pencegahan diabetes. Namun, efek jangka panjangnya pada remaja masih minim diketahui, yang menimbulkan kekhawatiran.

Penelitian yang dilakukan pada tikus mengungkapkan bahwa puasa intermiten dalam durasi panjang dapat berdampak pada produksi insulin pada tikus muda, yang berisiko menyerupai diabetes tipe 1 tahap awal pada manusia.

Dalam penelitian ini, tikus muda yang menjalani puasa intermiten selama 10 minggu menunjukkan penurunan produksi insulin yang signifikan.

Sebaliknya, tikus yang lebih tua yang menjalani pola makan yang sama justru mengalami peningkatan sensitivitas insulin, yang membantu tubuh merespons insulin dengan lebih baik, penting untuk mencegah diabetes tipe 2.

Menurut peneliti utama, Leonardo Matta, hasil ini mengejutkan karena puasa intermiten biasanya dianggap bermanfaat bagi sel beta penghasil insulin.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa sel beta pada tikus muda tidak matang dengan baik akibat puasa intermiten yang berkepanjangan. Hal ini tidak terjadi pada tikus yang lebih tua karena sel beta mereka sudah matang sebelum mulai menjalani puasa.

Temuan ini menunjukkan bahwa kematangan sel beta sebelum memulai puasa dapat memengaruhi respons tubuh terhadap puasa intermiten.

Peneliti menyarankan bahwa puasa intermiten dalam durasi pendek, sekitar 5 minggu, bisa bermanfaat untuk semua usia. Oleh karena itu, mereka merekomendasikan agar durasi puasa pada remaja dan orang dewasa muda perlu diperhatikan untuk meminimalkan risiko diabetes.

“Studi kami menegaskan bahwa puasa intermiten bermanfaat bagi orang dewasa, namun berpotensi berisiko bagi anak-anak dan remaja,” ujar Stephan Herzig, profesor di Universitas Teknik Munich.

Temuan ini membuka peluang penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana cara meningkatkan perkembangan sel beta yang sehat untuk pengobatan diabetes. (antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Lelah Mental? Cek Seberapa Tingkat Stresmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu SpongeBob, Patrick, Squidward, Mr. Krabs, atau Plankton?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Nge-fans Kamu dengan Lisa BLACKPINK?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Maarten Paes? Kiper Timnas Indonesia yang Direkrut Ajax Amsterdam
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI