Suara.com - Gas air mata yang kerap digunakan untuk membubarkan massa dalam aksi demonstrasi dapat memicu iritasi hingga peradangan kulit.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), Arini Astasari Widodo, memberikan tujuh langkah aman untuk memulihkan kulit setelah terpapar bahan kimia tersebut.
“Gas air mata memang dapat menyebabkan iritasi dan peradangan kulit, terutama bila terpapar berulang. Pemulihan bisa cepat bila ringan, namun bisa lebih lama jika ada luka,” kata Arini, Jumat (29/8/2025).
Berikut langkah-langkah yang disarankan:
1. Bersihkan kulit segera dengan air mengalir dalam jumlah banyak. Jangan gunakan air panas, cukup air bersuhu ruang.
2. Jaga kelembapan kulit dengan mengoleskan pelembap berbahan ceramide, petrolatum, atau aloe vera setelah membersihkan kulit.
3. Lepas pakaian terkontaminasi untuk mencegah paparan ulang dari sisa zat kimia.
4. Hindari menggosok kulit yang iritasi, agar kondisi tidak semakin parah.
5. Gunakan krim anti-inflamasi seperti kortikosteroid topikal ringan (hydrocortisone) sesuai anjuran dokter jika terdapat luka atau iritasi berat.
6. Hindari penggunaan bahan iritan seperti pasta gigi pada wajah atau area kulit yang terpapar.
“Penggunaan odol tidak aman dan sebaiknya dihindari,” tegas Arini.
Perhatikan gejala lanjutan. Jika iritasi ringan, kulit biasanya pulih dalam satu hingga tiga hari. Namun, bila ada dermatitis berat atau luka, penyembuhan dapat memakan waktu satu hingga dua minggu.
Arini menegaskan gas air mata mengandung senyawa berbahaya seperti chlorobenzylidene malononitrile (CS) atau chloroacetophenone (CN) yang memicu kemerahan, panas seperti terbakar, gatal, hingga luka melepuh jika terpapar berat atau berulang.
Paparan berturut-turut selama tiga hari dapat meningkatkan risiko peradangan berat, luka terbuka, hingga infeksi sekunder.
Kasus paparan gas air mata meningkat dalam beberapa aksi unjuk rasa belakangan ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut paparan gas kimia semacam ini dapat memengaruhi kesehatan kulit, mata, dan sistem pernapasan jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, langkah pencegahan dan penanganan awal sangat penting untuk meminimalkan dampaknya. (Antara)