Suara.com - Fenomena gray divorce kini makin marak terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Fenomena ini merujuk pada perceraian yang terjadi pada pasangan yang berusia di atas 50 tahun.
Sejumlah publik figur di Indonesia juga terpantau melakukan gray divorce yakni Lydia Kandou dan Jamal Mirdad, Mark Sungkar dan Fanny Bauty, serta Ira Wibowo dan musikus Katon Bagaskara.
Situs kesehatan mental Verywell Mind menyebutkan sedikitnya ada tujuh penyebab pasangan-pasangan di usia senja alias lansia justru memilih bercerai. Berikut penjelasannya.
1. Sindrom “Sarang Kosong” atau Empty Nest Syndrome
Anak-anak yang mulai meninggalkan rumah bisa membawa perubahan besar dalam hubungan pasangan suami istri. Banyak orang tua kemudian mengalami empty nest syndrome, perasaan hampa setelah anak-anak dewasa dan hidup mandiri.
Pasangan menyadari bahwa, tanpa peran sebagai orang tua, mereka ternyata tidak memiliki banyak kesamaan. Akibatnya, kedekatan dan keintiman bisa berkurang, membuat sebagian orang mencari pemenuhan emosional di luar hubungan mereka.
![Ilustrasi cerai.[freepik.com/freepik]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/08/15/79011-ilustrasi-ceraifreepikcomfreepik.jpg)
2. Masalah Keuangan
Pertengkaran soal uang makin sering terjadi saat pasangan mendekati usia pensiun. Ketika orang mulai mempertimbangkan untuk berhenti bekerja, perbedaan pandangan soal keuangan bisa membuat hubungan menjadi tegang.
Selain itu, ketidakjujuran finansial, seperti menyembunyikan tagihan, pembelian besar, dan utang dapat mengguncang kestabilan pernikahan yang sudah lama terjalin.
Baca Juga: Istri Absen Sidang Cerai Gara-Gara Alasan Kesehatan, Andre Taulany Kecewa
3. Perselingkuhan
Perselingkuhan merupakan salah satu penyebab perceraian paling umum di semua usia, termasuk pada pasangan yang sudah lama menikah.
Ketika kepercayaan dikhianati setelah bertahun-tahun membangun kehidupan bersama, rasa sakit dan kekecewaan yang muncul sering kali membuat hubungan sulit diperbaiki.
Banyak pasangan yang akhirnya menyerah karena keintiman dan kepercayaan tidak bisa dipulihkan sepenuhnya.

4. Masalah Kesehatan
Masalah kesehatan kronis atau penyakit serius dapat menjadi ujian besar bagi hubungan.
Seiring bertambahnya usia, tidak semua pasangan mampu menghadapi tantangan fisik dan emosional yang datang bersamaan dengan penyakit.
Kondisi ini bisa menimbulkan kelelahan, frustrasi, bahkan perasaan tidak berdaya di antara pasangan.
5. Berjalan ke Arah yang Berbeda (Growing Apart)
Salah satu penyebab utama perceraian di usia matang adalah perubahan arah kehidupan. Sebagai manusia yang dinamis, perubahan mungkin terjadi bahkan saat usia matang.
Prioritas, minat, dan kebutuhan berubah seiring waktu. Beberapa pasangan menjadi lebih dekat di masa ini, tetapi yang lain justru merasa nilai dan tujuan hidup mereka sudah terlalu berbeda sehingga akhirnya memilih jalan masing-masing.
6. Perubahan Ekspektasi
Pandangan tentang pernikahan yang sehat dan memuaskan juga telah berubah. Saat ini, banyak orang menilai hubungan berdasarkan kebahagiaan dan pemenuhan pribadi.
Jika hubungan tidak lagi memberikan rasa bahagia atau memenuhi kebutuhan emosional, sebagian orang memilih untuk mengakhirinya daripada bertahan dalam pernikahan yang tidak memuaskan.
7. Perubahan Sosial
Faktor sosial turut berperan dalam meningkatnya perceraian di usia lanjut. Generasi terdahulu dibesarkan dengan pandangan bahwa menikah, memiliki anak, dan menua bersama adalah jalan hidup ideal.
Namun kini, banyak orang menyadari bahwa kebahagiaan tidak harus mengikuti pola lama. Perempuan juga memiliki lebih banyak kebebasan dan kemandirian finansial dibanding generasi sebelumnya.
Akibatnya, orang kini lebih berani meninggalkan pernikahan yang tidak lagi memenuhi kebutuhannya, bahkan setelah puluhan tahun bersama. Usia harapan hidup yang lebih panjang turut memengaruhi keputusan tersebut.
Demikianlah penjelasan mengenai gray divorce dan penyebab-penyebabnya. Saat ini masih terdapat sejumlah kontroversi mengenai bercerai di usia matang. Orang-orang yang menganggap bahwa memiliki keluarga untuk menemani di hari tua merupakan Gambaran hidup ideal tentu akan menolak adanya perceraian ini.
Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni