Arti Istilah Mabuk Agama, Lebih Berbahaya dari Korupsi?

Yasinta Rahmawati

Kamis, 06 November 2025 | 15:42 WIB
Arti Istilah Mabuk Agama, Lebih Berbahaya dari Korupsi?
Ilustrasi - Arti Istilah Mabuk Agama (freepik)

Suara.com - Istilah mabuk agama menjadi sorotan usai Yudo Sadewa, Putra Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengkritik cara sebagian masyarakat Indonesia dalam memahami dan menerapkan agama di kehidupan.

Ia menyebut, banyak orang yang mabuk agama, namun di sisi lain tak sedikit pula yang justru tidak beragama sama sekali.

Pernyataan ini memicu perdebatan luas karena menyentuh isu sensitif yakni bagaimana agama dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Yudo, akar dari berbagai masalah sosial seperti korupsi dan kejahatan di Indonesia justru berasal dari pemahaman agama yang keliru yakni ketika seseorang menghubungkan segala sesuatu dengan agama tanpa dasar ilmu pengetahuan.

"Padahal gini guys, untuk memperkuat keimanan kita harus belajar yang namanya ilmu pengetahuan," katanya, dikutip dari TikTok @yudosadewa, Kamis (6/11/2025).

Arti Istilah Mabuk Agama

Bicara soal arti istilah mabuk agama, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "mabuk" berarti berbuat di luar kesadaran.

Maka, mabuk agama dapat dimaknai sebagai keadaan di mana seseorang mengamalkan ajaran agama secara berlebihan hingga mengabaikan akal sehat, logika, bahkan kemanusiaan. 

Mengutip situs Jateng.nu.id, KH Ahmad Mustofa Bisri sering mengingatkan bahwa semangat beragama harus selalu diimbangi dengan pemahaman beragama.

Fenomena ini dapat dianalisis sebagai proses psikologis yang bertahap. Tahap awal muncul dari keinginan kuat beragama, kemudian berubah menjadi ambisi, lalu mabuk, dan akhirnya bisa menuju fanatisme atau bahkan kegilaan. 

baca juga

Dalam tahap mabuk agama, seseorang meyakini bahwa semua tindakannya sah atas nama Tuhan, tanpa mau mempertimbangkan baik-buruk atau benar-salah.

Secara sosiologis, mabuk agama dapat melahirkan berbagai bentuk perilaku menyimpang. 

Konsekuensi Mabuk Agama

Setidaknya ada tiga konsekuensi besar yang bisa diamati. Pertama, munculnya komodifikasi agama yakni penggunaan simbol-simbol religius untuk tujuan ekonomi atau politik.

Labelisasi syariah dalam berbagai produk dan jasa seperti koperasi, rumah sakit, hotel, hingga perumahan sering kali dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis.

Tak jarang, hal ini berujung pada penipuan, seperti kasus First Travel, 212 Mart, hingga Kanjeng Dimas yang mengaku menggandakan uang. Fenomena ini menunjukkan bahwa spiritualitas sering kali disulap menjadi komoditas.

Kedua, lahirnya gerakan takfiri, yakni kecenderungan untuk mengkafirkan pihak lain di luar kelompoknya. Gerakan ini muncul dari rasa superioritas spiritual merasa paling benar, paling suci, dan paling dekat dengan Tuhan. 

Padahal, kesombongan spiritual semacam ini justru menyerupai sifat iblis yang ditolak karena keangkuhannya. Dalam konteks masyarakat majemuk seperti Indonesia, sikap sempit ini berpotensi menimbulkan perpecahan sosial dan radikalisme.

Ketiga, maraknya fenomena hijrah simbolik. Gerakan ini awalnya bertujuan baik, mendorong perubahan diri ke arah religius, namun sering bergeser menjadi ajang pencitraan. 

Di media sosial, hijrah sering dipamerkan dalam bentuk pakaian, gaya hidup, atau jargon keislaman tanpa pendalaman makna spiritual. Akibatnya, muncul kecenderungan menghakimi orang lain yang belum “hijrah”, seolah kesalehan bisa diukur dari tampilan luar.

Demikian itu arti istilah mabuk agama. Yudo Sadewa menekankan bahwa keimanan tanpa pengetahuan justru melahirkan kekacauan moral. 

Menurutnya banyak larangan agama yang sejatinya memiliki dasar ilmiah dan rasional. Misalnya, larangan berbohong, mencuri, atau mabuk, semuanya bukan hanya perintah spiritual, tapi juga menjaga keseimbangan sosial dan kesehatan mental manusia.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Orang yang berjihad sejati adalah orang yang memerangi hawa nafsunya karena Allah” (HR. Ahmad).

Hadis ini menegaskan bahwa jihad sejati bukan tentang memaksa orang lain tunduk, melainkan perjuangan melawan nafsu diri sendiri, melawan kesombongan, kebencian, dan kerakusan.

Sehingga perlu digarisbawahi kalau istilah "mabuk agama" bukanlah kritik terhadap keberagamaan itu sendiri, melainkan peringatan terhadap cara beragama yang kehilangan keseimbangan. Agama seharusnya menjadi jalan menuju kebijaksanaan, bukan alat pembenaran untuk keserakahan atau kebencian. 

Kontributor : Mutaya Saroh

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Anak Menteri Keuangan Yudo Sadewa Kembali Bikin Geger: Kritik Pedas Orang Indonesia Mabok Agama

Anak Menteri Keuangan Yudo Sadewa Kembali Bikin Geger: Kritik Pedas Orang Indonesia Mabok Agama

Entertainment | Kamis, 06 November 2025 | 10:43 WIB

Anak Menkeu Purbaya Sebut Orang Indonesia Mabuk Agama dan Tak Beragama: Makanya Banyak Korupsi

Anak Menkeu Purbaya Sebut Orang Indonesia Mabuk Agama dan Tak Beragama: Makanya Banyak Korupsi

Entertainment | Rabu, 05 November 2025 | 19:40 WIB

Link Resmi Download Kalender Hijriah 2026, Lengkap dengan Jadwal Idul Fitri dan Idul Adha!

Link Resmi Download Kalender Hijriah 2026, Lengkap dengan Jadwal Idul Fitri dan Idul Adha!

Lifestyle | Rabu, 05 November 2025 | 15:00 WIB

Terkini

Profil Abe Hoed, Anak Melly Goeslaw yang Resmi Lamar Putri Bambang Soesatyo

Profil Abe Hoed, Anak Melly Goeslaw yang Resmi Lamar Putri Bambang Soesatyo

Entertainment | Minggu, 27 September 2026 | 09:58 WIB

BYD Makin Perkasa: Ekspansi Raksasa Otomotif Tiongkok Kini Rambah Kereta Listrik Industri

BYD Makin Perkasa: Ekspansi Raksasa Otomotif Tiongkok Kini Rambah Kereta Listrik Industri

Otomotif | Minggu, 27 September 2026 | 09:56 WIB

Bosan Makan Nasi? Intip 3 Cara Pengolahan Sorgum sebagai Alternatif Karbo

Bosan Makan Nasi? Intip 3 Cara Pengolahan Sorgum sebagai Alternatif Karbo

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 09:50 WIB

Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Masih Berkantor dan Belum Ditahan? Ini Alasannya

Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Masih Berkantor dan Belum Ditahan? Ini Alasannya

Sulsel | Minggu, 27 September 2026 | 09:40 WIB

Rudy Mas'ud Arahkan Kegiatan ke Hotel BUMD, Dinas Pariwisata Ungkap Alasannya

Rudy Mas'ud Arahkan Kegiatan ke Hotel BUMD, Dinas Pariwisata Ungkap Alasannya

Kaltim | Minggu, 27 September 2026 | 09:40 WIB

BEI Hapus Kriteria Papan Pemantauan Khusus, Besok Harga Minimum Saham Jadi Rp1

BEI Hapus Kriteria Papan Pemantauan Khusus, Besok Harga Minimum Saham Jadi Rp1

Bisnis | Minggu, 27 September 2026 | 09:35 WIB

Jalan Aroepala Dibuka Penuh, Gubernur Sulsel: Akses Gowa-Makassar Makin Lancar

Jalan Aroepala Dibuka Penuh, Gubernur Sulsel: Akses Gowa-Makassar Makin Lancar

Sulsel | Minggu, 27 September 2026 | 09:26 WIB

Komunitas Otomotif Jajal Pengecekan Spooring Instan di Automechanika Jakarta 2026

Komunitas Otomotif Jajal Pengecekan Spooring Instan di Automechanika Jakarta 2026

Otomotif | Minggu, 27 September 2026 | 09:20 WIB

Review The Love Hypothesis: Fake Dating yang Manis, Romantis, dan Humoris

Review The Love Hypothesis: Fake Dating yang Manis, Romantis, dan Humoris

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 09:20 WIB

Rekor Dunia Pecah! Begini Reaksi Presiden Prabowo ke Lifter Rahmat Erwin

Rekor Dunia Pecah! Begini Reaksi Presiden Prabowo ke Lifter Rahmat Erwin

Sulsel | Minggu, 27 September 2026 | 09:15 WIB

×