- Nino Fediawan Kusmedi, auditor berpengalaman dua dekade, memiliki latar belakang pendidikan Akuntansi UI dan MBA ITB.
- Audit sangat penting untuk memverifikasi kewajaran laporan keuangan demi menjaga kepercayaan publik, investor, dan regulator.
- Profesi auditor menghadapi tantangan berbeda antara independensi eksternal dan tekanan politik internal dalam lingkungan kerja.
Ia membagi audit ke dalam beberapa jenis utama:
1. External Audit
Dilakukan oleh kantor akuntan publik independen untuk mengaudit laporan keuangan. Fokusnya adalah kewajaran angka, bukan mendeteksi seluruh kecurangan.
2. Internal Audit
Dilakukan dari dalam perusahaan, namun tetap harus independen dari manajemen. Tugasnya bukan hanya soal angka, tetapi menilai proses bisnis: apakah strategi dijalankan dengan benar, apakah pengadaan efisien, dan apakah tata kelola berjalan sesuai prinsip good corporate governance.
3. Special Audit atau Fraud Audit
Audit investigatif ketika sudah ada indikasi kuat kecurangan.
4. Compliance Audit
Audit kepatuhan terhadap peraturan dan undang-undang, termasuk kepatuhan lintas negara dan standar global.
“Kalau orang bilang ‘sudah diaudit kok masih ada kasus’, pertanyaannya audit yang mana dulu?” ujarnya.
Saat Audit Menjadi Tidak Populer
Dalam praktiknya, auditor tidak selalu disambut hangat. Nino menegaskan satu hal: orang yang paling tidak suka diaudit biasanya adalah mereka yang boros, tidak efisien, atau punya konflik kepentingan.
“Kalau auditor tidak berani, semua akan terlihat rapi di atas kertas,” katanya.
Di sinilah tantangan terbesar auditor muncul: berani menyampaikan kebenaran, meski berisiko pada karier sendiri.
External vs Internal Auditor: Tantangan yang Berbeda
Nino pernah merasakan kedua dunia. External auditor hidup dari fee klien. Semakin tinggi posisi, semakin besar tekanan untuk mendatangkan klien. Konflik kepentingan bisa muncul saat koreksi audit berpotensi menurunkan laba perusahaan.
Sebaliknya, sebagai internal auditor—bahkan di level Chief Audit Executive—tekanannya datang dari dalam: relasi dengan direksi, dinamika politik kantor, hingga ancaman mutasi. Meski begitu, ia mengaku lebih menikmati dunia internal audit.
“Saya bisa fokus ke proses bisnis, tata kelola, dan penguatan sistem, bukan jualan jasa,” ujarnya.
Beda Negara, Beda Budaya Audit
Pengalaman lintas negara membuat Nino melihat perbedaan mencolok dalam budaya audit. Di lingkungan perusahaan multinasional Timur Tengah, independensi auditor lebih dijaga secara sistemik—mulai dari jalur pelaporan ke Board Audit Committee hingga perlindungan profesional.
Sementara di Indonesia, tantangannya lebih kompleks. Faktor kedekatan personal dan budaya sungkan sering memengaruhi proses audit.
Namun menurutnya, persoalan utama bukan budaya semata, melainkan sistem yang belum sepenuhnya melindungi independensi auditor.
Audit di Era Digital dan AI
Teknologi mengubah cara kerja auditor. Dari kertas kerja manual, Excel, hingga sistem audit elektronik terintegrasi. Dalam perannya, Nino bahkan terlibat langsung dalam pengembangan dan peningkatan audit management system, data analytics, hingga pemanfaatan visualisasi data.
Namun ia mengingatkan: teknologi hanya alat bantu. Logika, pemahaman konteks, dan integritas tidak bisa digantikan mesin.
“Kalau auditor cuma copy ringkasan AI tanpa memahami laporan aslinya, konteks penting bisa hilang,” tegasnya.
Nilai yang Tak Pernah Berubah: Integritas
Di akhir percakapan, Nino kembali pada satu nilai yang selalu ia pegang sejak awal terjun ke profesi ini.
“Kejujuran itu mata uang yang berlaku di seluruh dunia.”
Dalam dunia audit yang penuh tekanan, integritas bukan sekadar slogan. Ia adalah fondasi. Tanpa integritas auditor, sekuat apa pun sistem, kecurangan akan selalu menemukan jalan.
Lebih dari dua dekade berkarier, lintas negara dan budaya, Nino membuktikan bahwa menjadi auditor bukan hanya soal angka, tetapi soal berani menjaga kebenaran, meski tidak selalu aman atau nyaman.
Dan di situlah, profesi ini menemukan maknanya.