Detik-detik Ledakan Gas Metana Terowongan Sikkim India, 12 Pekerja Proyek PLTA Tewas

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 22 Juli 2026 | 13:15 WIB
Detik-detik Ledakan Gas Metana Terowongan Sikkim India, 12 Pekerja Proyek PLTA Tewas
Semburan gas metana memicu ledakan dahsyat yang meruntuhkan terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air di Sikkim, India. (BBC)
baca 10 detik
  • Ledakan gas metana meruntuhkan terowongan proyek PLTA di Sikkim, India.

  • Sebanyak 12 pekerja ditemukan tewas dan 13 lainnya masih terjebak di dalam terowongan.

  • Pemerintah Sikkim menerjunkan tim investigasi khusus untuk mengusut tuntas penyebab ledakan.

Suara.com - Semburan gas metana memicu ledakan dahsyat yang meruntuhkan terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air di Sikkim, India. Insiden tragis di dalam perut bumi ini langsung menewaskan sedikitnya 12 pekerja serta merangkap puluhan lainnya.

Risiko mematikan gas bawah tanah kembali menelan korban jiwa pada proyek infrastruktur berskala besar. Peristiwa ini menyingkap kerentanan keselamatan kerja dalam pembangunan terowongan menembus batuan tebal pegunungan Himalaya.

Dua pekerja berhasil menyelamatkan diri saat ledakan terjadi jauh di dalam terowongan. Namun, 25 orang lainnya terjebak dalam kepungan asap tebal dan gas beracun.

Tim penyelamat merayap masuk hingga kedalaman 1,5 kilometer untuk mengevakuasi para korban. Upaya pencarian berlangsung secara maraton di tengah ancaman reruntuhan susulan.

Petugas kepolisian telah mengonfirmasi jumlah korban meninggal dunia yang berhasil dikeluarkan dari lokasi.

"Dari 25 orang yang terperangkap, sejauh ini kami telah mengevakuasi 12 jenazah, dan tim sedang bekerja untuk menemukan 13 pria lainnya," ujar Inspektur Polisi Sonam D Bhutia, dikutip dari BBC Inggris.

Penyebab utama ledakan diduga berasal dari akumulasi gas metana alami yang terperangkap di lapisan batuan. BUMN pengembang proyek, National Hydroelectric Power Corporation (NHPC), memberikan penjelasan resmi mengenai pemicu bencana tersebut.

NHPC menyatakan insiden terjadi "setelah semburan mendadak gas metana yang diduga terperangkap di dalam batuan, yang memicu ledakan serta menghasilkan asap tebal dan gas beracun". Pemerintah negara bagian Sikkim juga mengonfirmasi adanya pembakaran gas berbahaya tersebut.

Proses penggalian batuan berisiko tinggi memicu kontak antara gas beracun dan percikan api. Kondisi ruang tertutup memperparah dampak ledakan yang terjadi secara tiba-tiba.

baca juga

Seorang pejabat pemerintah menjelaskan mekanisme bahaya gas alami di dalam terowongan.

"Metana adalah gas alami yang terkadang terperangkap di bawah tanah. Jika penggalian terowongan melepaskannya ke ruang tertutup dan bersentuhan dengan percikan api atau sumber pemantik lain, gas tersebut dapat menyala atau meledak," terangnya.

Tim Badan Penanggulangan Bencana Nasional (NDRF) kini memfokuskan pencarian pada area spesifik sepanjang 200 meter. Area tersebut diprediksi menjadi titik keberadaan 13 pekerja yang masih hilang.

Proses identifikasi terhadap jenazah yang telah dievakuasi terus dilakukan oleh pihak berwenang. Dari tujuh korban yang teridentifikasi, satu orang merupakan warga lokal Sikkim dan selebihnya adalah pekerja migran dari West Bengal, Uttarakhand, serta Assam.

Pemeriksaan otopsi akan segera dijalankan guna memastikan penyebab pasti kematian seluruh korban. Pihak medis menyiapkannya seiring proses evakuasi yang terus berjalan.

Pemerintah Daerah Sikkim mengambil langkah tegas untuk membongkar penyebab pasti kecelakaan kerja fatal ini. Tim investigasi khusus langsung diterjunkan ke lokasi proyek.

Ketua Menteri Sikkim, Prem Singh Tamang, menegaskan komitmennya dalam menindaklanjuti kasus ini.

"Kami telah melibatkan tim ahli untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Kami akan mengambil tindakan berdasarkan hasil temuan tersebut," tegas Tamang kepada awak media.

Terowongan yang runtuh ini dirancang untuk mengalirkan air dari Sungai Teesta menuju turbin pembangkit listrik tenaga air. Proyek ini merupakan bagian dari pengembangan infrastruktur energi strategis pemerintah India di kawasan timur laut pegunungan Himalaya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kapten Kriket India: Warisan Lionel Messi Tak Bisa Dinilai dari Satu Laga Final

Kapten Kriket India: Warisan Lionel Messi Tak Bisa Dinilai dari Satu Laga Final

Bola | Selasa, 21 Juli 2026 | 20:55 WIB

Kasus Bom MAN 3 Padang, KemenPPPA Sebut Ada Indikasi Paparan Paham Radikal

Kasus Bom MAN 3 Padang, KemenPPPA Sebut Ada Indikasi Paparan Paham Radikal

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 17:34 WIB

Terowongan PLTA Meledak, 9 orang Tewas dan 27 Lainnya Terjebak di Pegunungan Himalaya

Terowongan PLTA Meledak, 9 orang Tewas dan 27 Lainnya Terjebak di Pegunungan Himalaya

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 15:58 WIB

Terkini

3 Zodiak yang Berpeluang Dapat Keuntungan Finansial pada 16 September 2026

3 Zodiak yang Berpeluang Dapat Keuntungan Finansial pada 16 September 2026

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 06:41 WIB

Kondisi Korban Serangan Brutal Eks Timnas Indonesia Jhon van Beukering: Tujuh Gigi Copot

Kondisi Korban Serangan Brutal Eks Timnas Indonesia Jhon van Beukering: Tujuh Gigi Copot

Bola | Rabu, 16 September 2026 | 06:40 WIB

BMKG dan Badan Geologi Mau Dilebur, Benarkah Mitigasi Bencana Bisa Lebih Cepat?

BMKG dan Badan Geologi Mau Dilebur, Benarkah Mitigasi Bencana Bisa Lebih Cepat?

News | Rabu, 16 September 2026 | 06:25 WIB

Jalur Minyak Utama Lumpuh Gegara Houthi, Harga Minyak Dunia Tembus $120 Per Barel!

Jalur Minyak Utama Lumpuh Gegara Houthi, Harga Minyak Dunia Tembus $120 Per Barel!

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 06:15 WIB

FC Seoul Pede Hadapi Persib di ACL 2, Tapi...

FC Seoul Pede Hadapi Persib di ACL 2, Tapi...

Bola | Rabu, 16 September 2026 | 06:05 WIB

Makan Penyu Dilindungi di Raja Ampat, WNA China Ditangkap di Makassar

Makan Penyu Dilindungi di Raja Ampat, WNA China Ditangkap di Makassar

Sulsel | Rabu, 16 September 2026 | 05:52 WIB

25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol

25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol

Sulsel | Rabu, 16 September 2026 | 05:42 WIB

Juara Umum Popprov DKI 2026, Atlet Pelajar Jakarta Barat Diguyur Bonus

Juara Umum Popprov DKI 2026, Atlet Pelajar Jakarta Barat Diguyur Bonus

Sport | Rabu, 16 September 2026 | 05:25 WIB

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi  Sebelum Terlambat

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi Sebelum Terlambat

News | Selasa, 15 September 2026 | 23:46 WIB

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

Sport | Selasa, 15 September 2026 | 23:05 WIB

×