- Patung macan putih di Balongjeruk, Kediri, awalnya dikritik karena bentuknya tidak lazim, kemudian menjadi viral di media sosial.
- Sejak viral awal Desember 2025, patung tersebut menarik banyak pengunjung, menciptakan pusat aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
- Dampak positif patung ini termasuk menjadikannya lokasi CFD dan meningkatkan pendapatan pedagang suvenir di sekitarnya.
Suara.com - Awalnya, patung macan putih di persimpangan Balongjeruk, Kabupaten Kediri, Jawa Timur lebih dikenal karena kritik daripada kekaguman.
Bentuknya yang tidak lazim, tubuh yang cenderung bulat, mata besar, serta garis-garis hitam yang tampak lebih mirip zebra, membuatnya ramai dijuluki sebagai patung “gagal” di media sosial.
Banyak yang menilai tampilannya jauh dari citra harimau yang gagah dan berwibawa. Bahkan sempat muncul rencana untuk membongkar patung tersebut.
Namun, seiring waktu, gelombang ejekan itu justru berubah menjadi pintu masuk bagi kisah yang jauh lebih menarik. Sebab, rasa penasaran publik perlahan mengalahkan kritik.
Dalam banyak video di media sosial TikTok, salah satunya yang dinagikan akun @adittsw_, orang-orang terlihat datang untuk melihat langsung patung yang viral itu.
Di sekitarnya, anak-anak bermain dan tertawa, orang dewasa berbaris untuk berfoto, sementara pedagang menjajakan balon yang serupa dengan patung dan aneka camilan.
Patung macan putih itu kini berdiri sebagai pusat aktivitas, menghidupkan suasana persimpangan yang sebelumnya biasa saja menjadi tempat berkumpul yang hangat dan penuh warna.
Sejak viral pada awal Desember 2025, Balongjeruk berubah menjadi tujuan kunjungan dadakan. Banyak pengunjung datang bukan hanya demi patungnya, tetapi juga untuk merasakan atmosfer unik yang tercipta di sekitarnya.
Ekspresi patung yang tidak mengintimidasi justru memberi kesan bersahabat, seolah mengundang siapa pun untuk berhenti sejenak dan tersenyum. Dalam konteks inilah, keunikan yang dulu dipandang sebagai kekurangan justru menjadi daya tarik utamanya.
Baca Juga: Neraca Dagang Surplus, Bank Indonesia Optimis Ketahanan Ekonomi Nasional Makin Kuat
Dampak dari popularitas ini pun meluas. Area sekitar patung kini dimanfaatkan sebagai lokasi Car Free Day (CFD) setiap Minggu, menjadikannya ruang publik yang aktif dan ramai. Perubahan ini membawa berkah ekonomi bagi warga sekitar.
Para pedagang merasakan lonjakan penjualan, dengan berbagai suvenir bertema macan putih, mulai dari kaos hingga boneka mini yang laris diburu pengunjung. Aktivitas yang awalnya hanya dipicu oleh viralitas kini berkembang menjadi roda ekonomi yang nyata.
Di balik semua itu, karya Mbah Suwari sebagai pembuat patung ikut mendapat pengakuan baru. Apa yang dulu dianggap keliru kini dipandang sebagai bukti bahwa seni tidak selalu harus sempurna untuk bermakna.
Patung macan putih Balongjeruk menunjukkan bagaimana sesuatu yang lahir dari keterbatasan dan kritik bisa tumbuh menjadi simbol kebersamaan, kreativitas, dan keberkahan.
Dari sebuah ejekan di dunia maya, muncul sebuah ruang nyata yang menghidupkan kota dan memberi manfaat bagi banyak orang.
"3,5 juta aja bisa datangkan perekonomian masyarakat. Yang 1M aja gak bisa," kata @adi****.