Mengenal Tokoh Indonesia dari Sisi yang Jarang Diceritakan lewat FIGURA, Apa Itu?

Bimo Aria Fundrika Suara.Com
Rabu, 07 Januari 2026 | 15:54 WIB
Mengenal Tokoh Indonesia dari Sisi yang Jarang Diceritakan lewat FIGURA, Apa Itu?
Mengenal Tokoh Indonesia dari Sisi yang Jarang Diceritakan lewat FIGURA. (Dok. Istimewa)
Baca 10 detik
    • Narasi tokoh nasional sering hanya menampilkan hasil akhir, bukan proses dan perjuangan di baliknya.

    • ICE meluncurkan FIGURA awal 2026 untuk mengangkat sisi manusiawi tokoh Indonesia lewat majalah daring dan cetak.

    • Mengajak publik belajar dari perjalanan hidup, pengorbanan, dan ketahanan para tokoh melalui kekuatan cerita.

 
 

Suara.com - Di tengah banjir narasi sukses yang serba instan, kisah para tokoh nasional kerap direduksi menjadi pencapaian akhir semata. Publik lebih sering disuguhi hasil, jabatan, dan pengakuan, tanpa diajak memahami proses panjang yang penuh pengorbanan, keraguan, dan keterbatasan.

Padahal, keberhasilan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ada cerita-cerita manusiawi yang kerap luput dicatat dan nyaris tak pernah mendapat ruang.

Berangkat dari kegelisahan itu, Ketua International Creatives Exchange (ICE), Atta Ul Karim, meluncurkan program FIGURA, akronim dari Figur Nusantara, pada awal 2026.

Program ini merupakan proyek jangka panjang yang bertujuan mengenalkan sisi lain para pemimpin dan tokoh nasional, sisi yang belum banyak diceritakan di ruang publik. FIGURA dikemas dalam bentuk majalah yang akan terbit secara daring dan cetak.

Latar belakang program ini berangkat dari keyakinan bahwa setiap kesuksesan selalu didahului oleh jerih payah dan pengorbanan. Melalui FIGURA, publik diajak melihat masa lalu para tokoh sebagai bagian penting dari perjalanan hidup mereka, bukan sekadar menatap hasil akhirnya.

“Di balik setiap peran publik, selalu ada perjalanan manusia. Ada keraguan, keputusan sunyi, dan keberanian mengambil tindakan di tengah kebuntuan,” terang Atta.

Ia kemudian mencontohkan pengalamannya sendiri. Meski kini kerap dinilai sebagai sosok yang sukses, perjalanan hidup Atta di masa lalu nyaris tak banyak diketahui orang.

“Orang lain mungkin tidak akan menyangka, saya pernah beberapa kali makan daun mentah untuk menahan lapar ketika masih anak-anak,” kenangnya.

Atta juga bercerita bahwa pada suatu masa, ia harus bertahan dengan menu sayur yang sama setiap hari karena keterbatasan biaya untuk membeli lauk yang lebih mahal.

Baca Juga: 6 Artis Korea Debut Jadi Tokoh Jahat di Drakor 2025, Terbaru Lee Chae Min di Cashero

“Dulu, sayur favorit saya di rumah adalah okra, sejenis kacang-kacangan yang harganya sangat murah. Lima ribu rupiah sudah dapat satu plastik. Bukan karena suka, tapi karena terpaksa. Sekarang malah jadi suka beneran,” tuturnya.

Dari pengalaman itulah Atta meyakini bahwa banyak tokoh yang hari ini dinilai berhasil menyimpan cerita perjuangan dan pengorbanan yang jarang terdengar. Kebanyakan orang hanya mengenal fase ketika para tokoh itu meniti karier atau telah berada di puncak.

Atta menambahkan, FIGURA merupakan turunan dari program Tutur Bangsa, salah satu dari delapan program ICE yang mewadahi berbagai karya tulis dengan tujuan membangun kesadaran dan daya refleksi kebangsaan.

“FIGURA adalah bagian dari Tutur Bangsa karena sama-sama berangkat dari kekuatan cerita dan karya tulis,” tutup Atta.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI