-
Aurelie Moeremans ungkap pengalaman menjadi korban Child Grooming saat usia remaja.
-
Child Grooming adalah manipulasi emosional untuk mengeksploitasi anak secara seksual.
-
Waspadai tahapan predator mulai dari membangun kepercayaan hingga melakukan isolasi.
Suara.com - Aurelie Moeremans lewat bukunya berjudul "Broken Strings" mengungkapkan masa lalunya yang pernah menjadi korban grooming di usia remaja.
"Buku ini adalah kisah nyata tentang aku.Tentang bagaimana aku digrooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku. Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri," tulis Aurelie Moeremans pada 3 Januari 2026 lalu dalam unggahannya.
Sebagai informasi, istilah grooming itu adalah kondisi saat anak-anak berada di bawah manipulasi atau kontrol orang yang lebih dewasa darinya.
Banyak orang tua yang mungkin belum menyadari bahwa perhatian berlebih dari orang dewasa, terlebih orang asing terhadap anaknya bisa jadi merupakan langkah awal predator untuk melakukan eksploitasi seksual.
Apa Itu Child Grooming?
Secara umum, child grooming adalah upaya seseorang untuk membangun hubungan emosional dan rasa percaya dengan seorang anak dan terkadang keluarganya dengan tujuan akhir untuk melecehkan atau mengeksploitasi anak tersebut secara seksual.

Berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014, anak adalah siapa saja yang berusia di bawah 18 tahun.
Pelaku grooming tidak melulu orang asing, mereka bisa saja seorang guru, pelatih olahraga, tetangga, bahkan anggota keluarga sendiri.
Pelaku biasanya bergerak dengan cara mengisi kekosongan dalam hidup anak, seperti kurangnya perhatian dari orang tua atau masalah pertemanan.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Promo Alat Elektronik di Opening Hartono Pakuwon Mall Jogja, Diskon hingga 80 Persen!
Tahapan dan Modus Pelaku
Proses grooming tidak terjadi dalam semalam. Pelaku bisa melancarkan aksinya selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun. Berikut beberapa cara yang biasanya digunakan:
- Membangun Kepercayaan: Pelaku berpura-pura menjadi sosok pelindung, pendengar yang baik, atau teman sebaya di dunia maya.
- Memberikan Perhatian dan Hadiah: Mulai dari pertanyaan sederhana seperti "sudah makan belum?" hingga membelikan barang-barang yang diinginkan anak.
- Isolasi: Perlahan, pelaku akan membatasi interaksi anak dengan lingkungan sosialnya agar anak hanya bergantung padanya.
- Kontrol dan Ancaman: Setelah kepercayaan didapat, pelaku mulai melakukan sentuhan tidak pantas atau meminta konten seksual. Mereka sering mengancam akan menyebarkan rahasia jika anak menolak.
Grooming di Dunia Digital
Di era teknologi, child grooming marak terjadi secara daring.
Media sosial menjadi pintu masuk utama bagi predator untuk memantau kerentanan anak.
Berawal dari obrolan ringan di kolom komentar atau pesan pribadi, aksi ini bisa berlanjut pada pertemuan di dunia nyata yang sangat berisiko.