-
Kesadaran publik terhadap isu lingkungan dan perlindungan satwa langka masih perlu diperkuat, terutama di kalangan generasi muda.
-
Caleb, siswa BINUS SCHOOL Simprug, menggunakan ilustrasi sebagai medium kreatif untuk menyuarakan kepedulian lingkungan dan satwa dilindungi.
-
Karya ilustrasi tersebut dikembangkan menjadi merchandise kolaboratif, dengan hasil penjualan disalurkan untuk mendukung kegiatan sosial dan lingkungan.
Suara.com - Kerusakan lingkungan dan ancaman terhadap satwa langka di Indonesia terus berlangsung, sering kali tanpa disadari dalam keseharian.
Di sisi lain, kesadaran publik, terutama di kalangan generasi muda, masih perlu terus diperkuat agar isu lingkungan tidak terasa jauh, melainkan dipahami sebagai persoalan yang berdampak langsung pada keberlanjutan ekosistem dan kehidupan satwa dilindungi.
Di tengah kondisi tersebut, muncul upaya-upaya kecil yang mencoba menjembatani kesenjangan antara isu lingkungan dan kesadaran publik. Salah satunya datang dari Caleb, siswa BINUS SCHOOL Simprug, yang memilih ilustrasi sebagai medium untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan dan perlindungan satwa langka Indonesia.

Melalui karya ilustrasinya, Caleb mengangkat berbagai spesies hewan dilindungi dan isu lingkungan ke dalam visual yang mudah dipahami, khususnya oleh anak-anak dan remaja. Karya-karya tersebut kemudian dikembangkan menjadi produk merchandise hasil kolaborasi dengan BINA NUSANTARA, yang diperkenalkan dalam sebuah pameran seni bertema lingkungan hidup.
Bagi Caleb, proyek ini bukan pengalaman pertama. Sejak duduk di kelas 5, ia telah mengembangkan karya bertema ekosistem laut yang diwujudkan menjadi produk, dengan hasil penjualan didonasikan untuk mendukung penanaman mangrove melalui NGO Divers Clean Action di kawasan PIK. Pengalaman tersebut menjadi pijakan awal bagi karya-karya berikutnya yang semakin konsisten mengangkat isu lingkungan.
Seiring waktu, fokus ilustrasi Caleb berkembang ke tema satwa khas Indonesia yang dilindungi. Dalam salah satu proses kreatifnya, ia juga berkolaborasi dengan anak-anak asuh Yayasan Wahana Visi Indonesia, menghadirkan karya yang tidak hanya merepresentasikan isu lingkungan, tetapi juga melibatkan partisipasi komunitas.
Pada proyek terbarunya, hasil penjualan merchandise akan disalurkan kepada Yayasan Wahana Visi Indonesia untuk mendukung peningkatan kualitas hidup anak-anak dan komunitas yang membutuhkan. Peluncuran produk kolaborasi ini dilakukan pada Rabu (21/1/2026), sekaligus menjadi ruang diskusi mengenai proses belajar, perjalanan kreatif siswa, dan pentingnya membuka ruang kontribusi sejak usia dini.
“Aku senang karena gambarku bisa bermanfaat untuk orang lain. Lewat gambar-gambar ini, aku ingin mengajak lebih banyak orang peduli pada hewan dan lingkungan,” ujar Caleb.
Kepala Sekolah BINUS SCHOOL Simprug, Isaac Koh, mengatakan inisiatif tersebut sejalan dengan pendekatan pembelajaran Journeys Programme yang mendorong siswa untuk menghubungkan proses belajar dengan aksi nyata.
Baca Juga: Menperin Beri Bocoran Insentif Otomotif 2026, Tak Mau Bikin Negara 'Cekak'
Menurutnya, pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas, tetapi perlu memberi ruang bagi siswa untuk memahami empati, berpikir kritis, dan dampak sosial dari karya yang dihasilkan.
Di tengah tantangan lingkungan yang kian kompleks, keterlibatan generasi muda melalui medium kreatif seperti ilustrasi menunjukkan bahwa suara kepedulian tidak selalu lahir dari ruang advokasi formal. Dalam skala kecil, karya-karya semacam ini menjadi pengingat bahwa kesadaran lingkungan juga bisa tumbuh dari ruang belajar, kreativitas, dan keberanian bersuara sejak dini.
