- Tabung gas nitrous oxide (N2O) yang dikenal sebagai "Whip Pink" ramai dibicarakan karena dikaitkan dengan kasus kematian selebgram.
- Gas N2O legal digunakan dalam medis sebagai anestesi dan di dapur untuk membuat krim, namun berbahaya bila disalahgunakan.
- Penyalahgunaan N2O tanpa oksigen dapat menyebabkan hipoksia, gangguan saraf jangka panjang, hingga memicu kematian mendadak.
Suara.com - Perbincangan soal “Whip Pink” mendadak ramai setelah sejumlah warganet mengaitkannya dengan kasus meninggalnya seorang selebgram.
Banyak yang terkejut ketika mengetahui bahwa benda yang diduga berbahaya itu ternyata bukan obat terlarang, bukan pula pil diet, melainkan tabung gas yang selama ini akrab di dapur, alat pembuat whipped cream.
“Pagi ini saya dapat banyak DM yang menanyakan soal ini. Awalnya saya kira obat diet atau semacamnya. Tapi setelah dicek, ternyata ini tabung untuk bikin whipped cream,” ujar dr. Dion Haryadi, PN1, CHC, AIFO-K, dalam penjelasannya di Instagram.
Tabung tersebut berisi nitrous oxide atau N2O, gas yang memang digunakan secara legal di dunia medis dan kuliner. Di dapur, gas ini berfungsi membuat krim mengembang dan menghasilkan busa yang lembut.
Di dunia medis, N2O dikenal sebagai anestesi ringan dan pereda nyeri. Namun, persoalan muncul ketika gas ini digunakan di luar fungsi aslinya.
“Tabung whipped cream ini sering disalahgunakan karena kandungan NO di dalamnya. Nitrous oxide punya efek sedatif ringan, bisa bikin tenang, sensasi melayang, dan sedikit euforia secara akut. Itu sebabnya sering disebut laughing gas atau gas tawa,” jelas dr. Dion.
Efek yang cepat dan singkat inilah yang kerap menipu. Banyak orang menganggapnya aman karena digunakan untuk makanan dan bahkan dipakai di rumah sakit.
Padahal, konteks penggunaannya sangat berbeda. Menghirup nitrous oxide secara langsung tanpa oksigen pendamping membuat tubuh kekurangan oksigen dalam waktu singkat.
“Penggunaan akut sesekali mungkin terlihat tidak terlalu bermasalah, tapi penggunaan kronis, rutin, dan jangka panjang bisa menyebabkan masalah kesehatan serius,” kata dr. Dion.
Baca Juga: Produksi Minyak RDMP Balikpapan Tetap Jalan Setelah Dapat Pasokan Gas dari Pipa Senipah
Dampaknya tidak main-main. Mulai dari gangguan saraf seperti kesemutan, gangguan keseimbangan, hingga kerusakan persyarafan. Dalam kondisi tertentu, penyalahgunaan N2O juga dapat memicu gangguan mood, pingsan, dan hipoksia, kondisi ketika tubuh kekurangan oksigen.
Yang sering luput dipahami publik adalah fakta bahwa nitrous oxide di dunia medis tidak pernah digunakan sembarangan.
“Saat dipakai sebagai anestesi, N2O selalu dicampur dengan oksigen, dosisnya diatur ketat, dan pasien dimonitor langsung oleh dokter,” tegas dr. Dion. Tanpa pengawasan dan tanpa oksigen tambahan, risiko gas ini meningkat drastis.
Popularitas “Whip Pink” di media sosial, dengan kemasan mencolok dan narasi seolah tak berbahaya, seakan menutupi risiko medis yang nyata. Sensasi melayang beberapa detik bisa dibayar dengan kerusakan saraf permanen, bahkan nyawa.
Whip Pink sendiri merujuk pada produk nitrous oxide (N2O) yang dipasarkan dengan visual mencolok. Dari tampilan media sosialnya, produk ini hadir dengan warna pink dominan, estetika playful, hingga konten yang terasa dekat dengan gaya hidup urban dan hiburan.
Bahkan di situs penjualannya, produk ini diklasifikasikan secara spesifik berdasarkan wilayah seperti Jakarta dan Bali, dua kota yang kerap diasosiasikan dengan pusat gaya hidup, hiburan, dan pesta.