Suara.com - Nama Baal mendadak menjadi perbincangan luas setelah rilis Epstein Files, kumpulan dokumen yang berkaitan dengan kasus Jeffrey Epstein.
Kehebohan ini bermula dari potongan dokumen yang terlihat memuat tulisan “Baal name”, lalu menyebar cepat di media sosial.
Banyak warganet menafsirkan istilah tersebut sebagai bukti bahwa Epstein memiliki rekening bank bernama Baal, yang kemudian dikaitkan dengan ritual gelap, penyembahan iblis, hingga pengorbanan manusia.
Lalu, siapa Baal Epstein files sebenarnya? Simak inilah selengkapnya.
Salah satu unggahan yang ramai dibagikan berasal dari akun X @AdameMedia, yang menyebut Baal sebagai makhluk supranatural yang disembah di Israel kuno, dengan klaim adanya ritual pengorbanan anak dan keterlibatan elite global.
Narasi tersebut membuat isu ini semakin sensasional dan menimbulkan ketakutan, meski belum didukung bukti yang jelas.
Untuk memahami isu ini, penting mengetahui siapa sebenarnya Baal. Secara historis, Baal bukanlah nama tunggal atau sosok iblis seperti yang sering dibayangkan. Baal adalah sebutan atau gelar yang berarti “tuan” atau “penguasa” dalam bahasa Semitik kuno.
Nama ini digunakan untuk menyebut dewa-dewa yang disembah oleh masyarakat Kanaan dan wilayah Timur Tengah pada masa lampau.
Baal sering dikaitkan dengan hujan, badai, dan kesuburan, karena masyarakat agraris sangat bergantung pada alam untuk bertahan hidup. Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, Baal kemudian digambarkan sebagai simbol penyembahan berhala yang ditentang oleh para nabi.
Baca Juga: 7 Fakta Little St. James, Pulau Pedofil Milik Jeffrey Epstein
Dari sinilah muncul citra Baal sebagai sosok yang dianggap jahat, meski dalam konteks sejarah awalnya, Baal lebih merupakan figur kepercayaan lokal yang berkembang sebelum agama-agama besar muncul.
Ba'al, menurut Al-Quran
Dalam Islam, Baal juga disebut dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Ash-Shaffat ayat 125. Ayat tersebut mengisahkan Nabi Ilyas yang menegur kaumnya karena menyembah Ba‘al dan meninggalkan Allah sebagai Tuhan yang Maha Pencipta.
Penyebutan Ba‘al dalam Al-Qur’an merujuk pada berhala atau sesembahan yang disembah oleh kaum Nabi Ilyas pada masa itu. Artinya, dalam perspektif Islam, Baal bukanlah makhluk supranatural misterius, melainkan simbol penyembahan berhala yang keliru.
Al-Qur’an tidak menggambarkan Ba'al sebagai entitas iblis dengan ritual rahasia, melainkan sebagai contoh penyimpangan akidah yang terjadi pada umat terdahulu. Pemahaman ini penting agar Baal tidak disalahartikan sebagai sosok mistis modern yang dikaitkan dengan teori konspirasi masa kini.
Pada klaim yang beredar di media sosial, pemeriksaan fakta menunjukkan bahwa tidak ada rekening bernama Baal dalam dokumen Epstein. Tulisan yang dibaca sebagai “Baal name” ternyata berasal dari kesalahan pembacaan dokumen hasil pindai digital atau OCR.
Tulisan yang seharusnya tertulis “Bank Name” terbaca keliru menjadi “Baal name”. Setelah bagian tersebut, dokumen justru dengan jelas mencantumkan nama bank Wachovia Bank dan nama rekening One Clearlake Centre, LLC.
Media pemeriksa fakta menegaskan bahwa tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan Epstein sengaja menamai rekeningnya dengan nama Baal, apalagi mengaitkannya dengan ritual atau kepercayaan tertentu.
Meski demikian, kutipan netizen seperti dari akun @AdameMedia tetap menyebar luas karena menggunakan bahasa yang emosional dan narasi yang ekstrem. Klaim tentang pengorbanan bayi, keterlibatan negara-negara besar, hingga kaitan dengan konflik geopolitik membuat isu ini terasa “dalam” dan sulit dipahami.
Padahal, sebagian besar pernyataan tersebut tidak memiliki dasar dokumen yang kuat. Fenomena ini menunjukkan bagaimana potongan informasi yang tidak utuh bisa dengan mudah ditafsirkan secara berlebihan, apalagi jika dikaitkan dengan nama yang sudah lama memiliki citra negatif dalam sejarah keagamaan.
Pada akhirnya, Baal dalam konteks sejarah, Al-Qur’an, dan dokumen Epstein adalah tiga hal yang berbeda. Dalam sejarah, Baal adalah sebutan bagi dewa kuno dalam Al-Qur’an, Baal adalah berhala yang disembah kaum Nabi Ilyas, sedangkan dalam Epstein Files, nama Baal muncul akibat kesalahan teknis pembacaan dokumen.
Kontributor : Dea Nabila