"Puasa itu bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari perkataan sia-sia dan perbuatan keji." (HR. Al-Baihaqi).
Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas puasa sangat ditentukan oleh perilaku seseorang selama berpuasa.
Marah yang berlebihan, disertai dengan ucapan kasar atau tindakan yang menyakiti orang lain, dapat merusak nilai ibadah puasa meskipun secara hukum tetap sah.
Hadis tentang Menahan Amarah saat Puasa
Rasulullah juga secara khusus menekankan pentingnya menahan amarah ketika berpuasa. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:
"Apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia mengatakan: 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa'."
Hadis ini menegaskan bahwa puasa adalah latihan kesabaran dan pengendalian emosi.
Ketika seseorang dihadapkan pada situasi yang memancing amarah, ia dianjurkan untuk mengingat statusnya sebagai orang yang sedang berpuasa, sehingga dapat menahan diri dari reaksi negatif.
Pengendalian Hawa Nafsu dalam Al-Quran
Al-Quran banyak membahas tentang pentingnya mengendalikan hawa nafsu, termasuk amarah. Salah satu ayat yang relevan adalah firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 134:
"(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang dan sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan."
Ayat ini menunjukkan bahwa menahan amarah merupakan sifat mulia yang dicintai oleh Allah SWT.
Dalam konteks puasa, ayat ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari menahan lapar, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan emosi dan bersikap lapang dada.
Selain itu, dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah SWT berfirman bahwa tujuan puasa adalah untuk membentuk ketakwaan.
Ketakwaan tersebut mencakup kemampuan seseorang dalam mengontrol hawa nafsu, baik nafsu makan, minum, maupun nafsu emosi seperti marah dan dendam.
Marah dan Kualitas Puasa
Marah yang tidak terkendali dapat mengurangi esensi puasa sebagai ibadah pembentuk akhlak.
Seseorang mungkin tetap mendapatkan status sah berpuasa, tapi kehilangan pahala yang besar akibat perilaku yang tidak terjaga.