Suara.com - Kreator konten kondang nan kontroversial Dwi Sasetyaningtyas kini mendapatkan 'batunya' usai melontarkan pernyataan nyelekit tentang status kewarganegaraan dan kekuatan Paspor Republik Indonesia (Paspor RI)
Kontroversi yang dituai oleh Dwi tak lain dan tak bukan karena statusnya sebagai seorang alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP yang dikelola oleh Kementerian Keuangan RI.
Dwi dinilai bak 'kacang lupa kulitnya' karena mengomentari soal kewarganegaraan yang bagi berbagai orang dinilai tone deaf dan memanfaatkan privilesenya untuk belajar di luar negeri tanpa memberikan kontribusi.
Imbas dari pernyataan 'pedas' Dwi bahkan berujung pada blacklist oleh Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa sebagai respon tegas pemerintah.
Lantas, bagaimana pernyataan yang menyebabkan Dwi kini diterpa angin panas kontroversi?
Bagaimana nasibnya kini setelah mendapat tindakan tegas dari pemerintah?
Awal mula Dwi Sasetyaningtyas koar-koar soal kewarganegaraan
Perempuan yang kini berprofesi sebagai aktivis lingkungan ini sebelumnya mengunggah vlog berisi komentar-komentar pedas terkait kondisi di negara asalnya.
Ia banyak menyinggung soal problematika yang dihadapi oleh Warga Negara Indonesia (WNI), terutama lemahnya paspor di tengah berbagai masalah lainnya.
Sontak, Dwi memberikan kalimat pedas dengan berharap agar anaknya tak jadi WNI supaya bisa mendapat privilese yang lebih banyak, termasuk paspor yang kuat.
"Aku tahu dunia terlihat enggak adil, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," seloroh Dwi dalam unggahan yang kini telah dihapus.
Publik kuliti status Dwi sebagai awardee
Kalimat kontroversial yang terlontar dari mulut Dwi Sasetyaningtyas akhirnya memantik warganet untuk berdebat.
Beberapa warganet yang terpantik akhirnya menggali siapa sosok Dwi Sasetyaningtyas sebenarnya.
Usut punya usut, Dwi Sasetyaningtyas adalah awardee atau penerima beasiswa LPDP dan mengambil studi magister (S2) ke Delft University of Technology (TU Delft), Belanda, dengan jurusan Sustainable Energy Technology.