- Perayaan Valentine bergeser di kalangan Gen Z, kini fokus pada perayaan self-love dan kebebasan berekspresi pascaputus cinta.
- Grup K-pop BOYNEXTDOOR menguatkan tren ini melalui tantangan media sosial "Hotter Than My EX" bersama Samyang Foods.
Suara.com - Tradisi perayaan Hari Kasih Sayang atau Valentine yang selama puluhan tahun identik dengan makan malam romantis bertabur lilin, kotak cokelat manis, dan rangkaian bunga mawar merah, kini mulai mengalami pergeseran makna yang signifikan di tengah dinamika gaya hidup kontemporer.
Di tangan Generasi Z (Gen Z), momen 14 Februari tidak lagi dianggap semata sebagai hari wajib bagi pasangan kekasih, melainkan direklamasi menjadi panggung untuk merayakan self-love, kebebasan berekspresi, bahkan sebagai momentum emas untuk bangkit dari bayang-bayang patah hati dengan cara yang unik, berani, dan penuh energi positif.
Bagi generasi digital ini, Valentine bukan lagi sekadar perayaan bagi mereka yang memiliki pasangan. Sebaliknya, momen ini menjadi ruang refleksi untuk menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada status hubungan. Narasi "galau" akibat putus cinta atau kesendirian kini diubah menjadi simbol kekuatan dan kepercayaan diri.
Ikon Pop Ajak Definisikan Ulang "Percaya Diri"
Pergeseran budaya ini semakin masif berkat pengaruh budaya populer. Salah satu grup K-pop yang tengah naik daun, BOYNEXTDOOR, turut ambil bagian dalam gerakan mendefinisikan ulang makna kasih sayang di bulan Februari ini. Dikenal dengan citra yang autentik dan lirik yang jujur, grup ini mengajak penggemarnya untuk merayakan "kebebasan emosional".
Melalui sebuah tantangan challenge di media sosial, mereka mendorong anak muda untuk mengekspresikan versi terbaik dari diri mereka sendiri. Lagu hit mereka, Earth, Wind & Fire, bahkan diaransemen ulang secara khusus untuk mengiringi gerakan ini.
Di berbagai platform video pendek seperti TikTok, tantangan ini mengajak pengguna untuk menari dan berekspresi, mengubah energi negatif pascaperpisahan atau kesendirian menjadi sebuah pernyataan sikap: bahwa diri mereka saat ini jauh lebih "bersinar" dan tangguh dibandingkan dengan masa lalu.
Filosofi "Hotter Than My EX"
Gerakan viral bersama BOYNEXTDOOR tersebut ternyata merupakan bagian dari kampanye global bertajuk "Hotter Than My EX" yang diinisiasi oleh jenama mi pedas, Samyang Foods. Melalui merek Buldak, kampanye ini secara cerdas mengasosiasikan sensasi rasa pedas yang ikonik sebagai metafora dari rasa percaya diri yang "membakar" semangat.
Baca Juga: Ramai Konflik Knetz vs SEAblings, Cewek Korsel Ini Curhat Jadi Korban Body Shaming di Negeri Sendiri
Sensasi pedas yang biasanya hanya dimaknai sebagai cita rasa kuliner, kini ditransformasikan menjadi simbol kekuatan individualitas dan kontrol diri. Pesan ini sangat relevan bagi Gen Z yang menjadikan makanan pedas sebagai bagian dari gaya hidup dan tantangan sosial mereka.
Inklusivitas Lewat Keterjangkauan Harga
Namun, agar sebuah tren gaya hidup dapat diterima secara luas, relevansi budaya harus didukung oleh aksesibilitas. Memahami bahwa basis penggemar K-pop dan pencinta kuliner pedas di Indonesia sangat besar namun kritis terhadap harga, strategi pemasaran emosional ini dibarengi dengan kebijakan ekonomi yang inklusif.
Sejalan dengan semangat "Closer Than Ever", Samyang Foods Indonesia mengumumkan langkah strategis berupa penyesuaian harga pasokan ritel. Perusahaan menurunkan harga hingga 20 persen untuk tiga varian utamanya, yaitu Original, Cheese, dan 2X Spicy.
Kebijakan ini diambil untuk memastikan bahwa euforia kampanye "Hotter Than My EX" dan pengalaman menikmati kuliner pedas Korea tidak menjadi barang eksklusif. Langkah ini memungkinkan lebih banyak anak muda Indonesia untuk berpartisipasi dalam tren global ini, menjadikan Buldak sebagai bagian dari keseharian mereka tanpa terbebani harga yang tinggi.
Kombinasi antara pesan pemberdayaan diri melalui musik K-pop dan strategi harga yang membumi ini menegaskan bahwa bagi Gen Z, perayaan Valentine yang ideal adalah tentang merayakan diri sendiri dengan cara yang seru, inklusif, dan tentu saja, ramah di kantong.