ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Latin:
Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.
Artinya:
“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah.”
Doa ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dinilai sahih oleh sejumlah ulama. Lafaznya sederhana dan menggambarkan rasa syukur setelah menyelesaikan puasa seharian penuh.
Baik doa pertama maupun kedua bisa dibaca saat berbuka puasa Ramadan maupun puasa sunah. Tidak ada ketentuan khusus yang mengharuskan perbedaan doa antara keduanya. Bahkan, umat Islam juga diperbolehkan memanjatkan doa lain sesuai kebutuhan dan hajat masing-masing, karena waktu berbuka puasa termasuk waktu mustajab untuk berdoa.
Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak ketika berbuka. Karena itu, selain membaca doa yang dicontohkan, sangat dianjurkan untuk menambahkan doa pribadi, memohon ampunan, rezeki, kesehatan, atau kebaikan dunia dan akhirat.
Hal penting lainnya adalah adab berbuka puasa. Dianjurkan untuk menyegerakan berbuka ketika waktu magrib tiba dan memulainya dengan sesuatu yang manis seperti kurma atau air. Setelah itu, barulah membaca doa dan melaksanakan salat Magrib. Tradisi ini berlaku baik untuk puasa Ramadan maupun puasa sunah.
Kesimpulannya, tidak ada perbedaan khusus antara doa buka puasa Ramadan dan doa buka puasa sunah. Keduanya menggunakan doa yang sama sebagaimana diajarkan dalam hadis. Umat Islam bebas memilih doa yang diriwayatkan maupun menambahkan doa lainnya sesuai kebutuhan. Yang terpenting adalah menghadirkan rasa syukur, keikhlasan, dan harapan akan pahala dari Allah SWT setelah menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesabaran.
Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni